Perjalanan Bupati Magelang Danusugondo ke Negeri Belanda di tahun 1917

Standard

DE DEPUTATIE VAN HET COMITÉ „INDIË-WEERBAAR”. Boepati MAGELANG ing Nagari Walanda – 1917.

Tahukah anda Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo pernah sebagai wakil Regenten Bond ke Belanda bersama salah satunya Abdoel Moeis.
Tahun 1915, kekacauan sedang terjadi di Eropa akibat perang dunia pertama. Sebagai negeri yang sedang dijajah korporasi asal Belanda, masyarakat Indonesia (saat itu bernama Hindia Belanda) ramai pula membicarakan hal ini, terutama masalah pertahanan Hindia Belanda.
Untuk menghadapi masalah keamanan ini, beberapa organisasi pergerakan berkumpul untuk menggerakkan satu komite bernama Indie Weerbaar.
Indie Weerbaar ini sebenarnya dibentuk oleh sekumpulan pengusaha perkebunan Hindia Belanda. Dengan meningkatnya kebutuhan militer saat Perang Dunia I, banyak dana dari Hindia Belanda ditarik untuk melindungi Kerajaan Belanda. Dengan menipisnya anggaran belanja pemerintah kolonial dan juga adanya kebutuhan untuk melindungi diri dari negara lain, para pengusaha perkebunan memprakarsai Indie Weerbaar untuk menuntut pembentukan tentara bumiputera dan menjalankan wajib militer bagi rakyat Hindia. Pertimbangannya adalah membentuk kesatuan tentara pribumi ongkosnya jauh lebih murah daripada membayar orang Belanda. Agar tuntutan ini disetujui rakyat Hindia Belanda, pengusaha ini mengundang berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Boedi Oetomo, Perkumpulan Kaum Bupati, Perkumpulan Bangsawan, dan Perserikatan Minahasa. Organisasi ini mau bergabung dengan Indie Weerbaar karena komite ini dapat meningkatkan kemampuan rakyat untuk mempertahankan diri.
Komite ini menuntut pemerintah Belanda untuk membuat undang-undang wajib militer bagi pemuda Hindia Belanda. Karena masalah ini tidak dapat diselesaikan di negeri ini, pada tahun 1917 komite mengirimkan enam orang utusan ke Belanda. 6 orang tersebut adalah Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond), Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, dan W.V Rhemrev. Selain itu, ada seorang pendamping yaitu Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis.
Tujuan utama kunjungan ini tidak tercapai. Belanda berusaha keras meyakinkan ketiga perwakilan Hindia bahwa Belanda masih cukup kuat untuk bisa mengamankan nusantara jika terjadi perang di Samudera Pasifik. Ratu Wilhemina sendiri yang langsung menjamu Abdoel Moeis dan rekan-rekannya. Mereka bertiga dibawa melihat-lihat gudang-gudang senjata Belanda. Dengan cara memamerkan kekuatan militer inilah, Belanda akhirnya menolak tuntutan Komite Indie Weer Baar. Belanda menyatakan bahwa mereka masih bisa mencegah perang di Hindia dengan kekuatan sendiri. Tidak perlu meminta bantuan negara lain ataupun melatih rakyat Hindia untuk menjadi tentara.
Ketika mengunjungi pangkalan udara, pihak Belanda menantang Abdoel Moeis, “Beranikah Anda menaiki pesawat terbang?” Ia langsung menerima tantangan tersebut. Abdoel Moeis pun menjadi orang Indonesia pertama yang menaiki pesawat terbang. Berada di atas angkasa, pikiran Abdoel Moeis makin terbuka. Salah satu penyebab Belanda bisa unggul adalah penguasaan teknologi. Ia merasa bangsa ini harus “mencuri” ilmu dan teknologi dari Belanda agar bisa maju. Yakni dengan meminta Belanda mendirikan universitas teknik di Hindia.
Sisa waktunya di Belanda ia gunakan untuk melobi pemerintah agar mendirikan sekolah Hindia di Hindia. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan jajaran pemimpin Belanda, gagasan pendirian sekolah teknik di Indonesia selalu ia bicarakan. Ia menjelaskan bahwa sekolah ini bukan hanya akan menguntungkan rakyat Hindia, tetapi juga bagi kerajaan Belanda. Gagasan ini mendapat sambutan baik, Ratu Wilhemina setuju untuk membentuk komisi pendidikan teknik di Hindia dan 14 pengusaha memberi dukungan penuh dalam hal finansial.
Walau tuntutan semula agar Belanda membuat undang-undang wajib militer tidak dipenuhi, setidaknya perjalanannya ke Belanda tidak sia-sia. Tiga tahun kemudian atau tahun 1920, Belanda mendirikan Technische Hooge School di Bandung (kini bernama Insitut Teknologi Bandung). Setahun setelahnya, kampus ini menjadi tempat Soekarno mengenyam ilmu dan mempraktikkan ide-ide kebangsaannya.

Dalam foto tersebut di atas adalah 6 orang perwakilan “Indie Weerbaar” sedang berada di Rotterdam dimana urut dari
F Laoh mewakili Perserikatan Minahasa, Abdoel Moeis mewakili Sarekat Islam, W.V Rhemrev, Bupati Magelang Raden Tumenggung Danoe Soegondo mewakili Regenten Bond, Dirk van Hinloopen Labberton, seorang tokoh pendukung Politik Etis sebagai pendamping, Mas Ngabehi Dwidjosewojo mewakili Boedi Oetomo, Pangeran Ario Koesoemodiningrat (mewakili Prinsen Bond).


Daftar Pustaka
Nur, Mirza. 1978. Abdoel Moeis Politikus, Jurnalis, Sastrawan. Jakarta: Penerbit Mutiara Aris
Widiarto, Agus. 1995. Strategi Perjuangan Politik Abdoel Moeis dalam Sarekat Islam, 1915-1923. Depok: Universitas Indonesia

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s