ARSITEKTUR INDIS DI INDONESIA [2]

Standard

Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia dibagi

menjadi 4 periode (Hadinoto dalam Sukawi, 2009), yaitu:

1. Abad 16 – Tahun 1800an

Indonesia masih disebut sebagai Netherland Indische di bawah

kekuasaan VOC. Bangunan perkotaan orang Belanda pada periode ini masih

bergaya Eropa dengan bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap curam,

dan dinding depan bertingkat bergaya Belanda di ujung teras. Bangunan

ini tidak memiliki orientasi bentuk yang jelas, atau tidak beradaptasi

dengan iklim dan lingkungan setempat.

2. Tahun 1800an – Tahun 1902

Terbentuk gaya arsitektural The Dutch Colonial Villa. Gaya

ini merupakan gaya arsitektur Neo-Klasik yang melanda Eropa (terutama

Perancis) yang diterjemahkan secara bebas, menghasilkan gaya Hindia

Belanda bercitra kolonial disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim,

dan material yang tersedia pada masa itu, yang kemudian dikenal sebagai

Indische

Architectuur, atau rumah Landhuis, yang merupakan tipe rumah

tinggal di seluruh Hindia Belanda pada masa itu. Tipe rumah ini memiliki

karakter sebagai berikut:

  • Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan), dan didalamnya terdapat serambi tengah menuju ruang tidur dan kamar-kamar lainnya.
  • Pilar menjulang ke atas gaya Yunani dan terdapat gevel (mahkota) di atas serambi depan dan belakang.
  • Menggunakan atap perisai.

3. Tahun 1902 – 1920

Kaum liberal Belanda pada masa antara tahun 1902 mendesak politik

etis diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu permukiman orang Belanda di

Indonesia tumbuh dengan cepat. Indische Architectuur terdesak,

digantikan dengan standar arsitektur modern yang berorientasi ke

Belanda.

4. Tahun 1920 – 1940

Pada awal abad 20, arsitek-arsitek Belanda memunculkan pendekatan

untuk rancangan arsitektur di Hindia Belanda. Aliran baru ini semula

masih memegang unsur-unsur dasar bentuk klasik, memasukkan unsur-unsur

yang terutama dirancang untuk mengantisipasi matahari dan hujan lebat

tropis. Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga memasukkan

unsur-unsur tradisional Indonesia sehingga menjadi konsep yang eklektis.

Dari penjelasan diatas, dapat dirumuskan bahwa perkembangan

arsitektur Indis di Indonesia berawal dari penguasaan Indonesia oleh

VOC. Pada awalnya gaya arsitektur masih menggunakan gaya tradisional

Belanda, namun seiring perjalanan waktu, gaya ini terus berkembang,

mulai dari penyesuaian terhadap iklim tropis, hingga penyesuaian

terhadap unsur-unsur arsitektur tradisional Indonesia.

Arsitek-arsitek Belanda melakukan berbagai pendekatan untuk rancangan

arsitektur di Hindia Belanda. Selain unsur-unsur tropis, juga

memasukkan unsur-unsur tradisional Indonesia (Hadinoto dalam Sukawi,

2009). Dan dalam mempelajari arsitektur tradisional Indonesia, mereka

menekankan agar desain tersebut dapat bersahabat dengan iklim dan

kondisi lainnya. (Sidharta, 1998)

Disebutkan beberapa inovasi dalam desain menanggapi iklim tropis

adalah (Sidharta, 1998):

1. membuat beranda terbuka di depan, belakang, atau

sekeliling bangunan.

2. overhang yang lebar untuk melindungi permukaan

dinding dan jendela dari sinar matahari langsung dan hujan.

3. ketinggian plafon 4m dan ventilasi alamiah diatas

pintu dan jendela.

4. taman tropis dengan pepohonan yang cukup

Sedangkan penggunaan dari unsur seni tradisional, diterapkan pada

ragam hiasnya. Arsitek Belanda menghargai detail-detail yang penuh

ekspresi dan mengagumkan pada seni tradisional Indonesia sehingga

dijadikan ilham sebagai bahan ide untuk membangun arsitektur modern di

Hindia Belanda (Soekiman, 2000).

Ragam hias pada bangunan berarsitektur Indis dapat dilihat pada

(Soekiman, 2000):

1. Bentuk atap dan hiasan kemuncak

Bentuk atap dapat menggunakan bentuk model Belanda, dapat pula

menggunakan bentuk atap tradisional Indonesia seperti joglo, limasan,

pencu, rumah kampung, dan sebagainya. Sedangkan untuk material

menggunakan material yang terdapat di lingkungan seperti genteng, bambu,

daun pohon palem, rerumputan, dan sebagainya.

Contoh bangunan Indis beratap

joglo

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

Sedangkan hiasan kemuncak dapat berupa:

a)      Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer)

Contoh windwijzer

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat

Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

b)      Hiasan puncak atap (Nok Acreterie) dan cerobong asap semu

Contoh hiasan puncak atap dan

cerobong asap semu

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

c)      Hiasan kemuncak tampak depan (geveltoppen)

Contoh geveltoppen

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

2. Tadhah angin

Di Belanda, ragam hias pada tadhah angin memiliki makna simbolik,

namun pada bangunan Indis di Indonesia, ragam hias itu sudah kehilangan

maknanya dan hanya berfungsi sebagai hiasan.

3. Ragam hias pasif dari material logam

Ragam hias yang melengkapi bagian rumah dari bahan besi, misal untuk

pagar serambi (stoep), penyangga atap emper bagian depan dan belakang

rumah (kerbil), penunjuk arah mata angin, lampu halaman, lampu dinding,

dan kursi kebun.

Contoh ragam hias pasif

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

4. Tubuh Bangunan

Ragam hias yang terdapat pada tubuh bangunan seperti kolom bangunan

dan lubang angin. Ragam hias pada lubang angin dapat berupa ukiran.

Sedangkan pada kolom bangunan menggunakan gaya Doria, Ionia, dan

Korinthia yang susunannya terdiri atas kepala, tubuh, dan kaki tiang.

Contoh ragam hias kolom

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

sebenernya ada banyak banget

data yang  belon aku masukin, kalo tertarik n mao tau lebih jauh, aku

saranin baca buku2 dibawah ini.

Daftar Pustaka

Sidharta. 1998. Arsitektur dan Pendidikannya. Jurusan

Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang

Soekiman, Djoko, Prof, Dr. 2000.

Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup

Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX). Yayasan

Bentang Budaya. Yogyakarta.

Sukawi. 2009.

”Pengaruh Arsitektur Indis Pada Rumah Kauman

Semarang”, Tesa Arsitektur. Vol 7 No 1 hal 1-65.

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s