OLEH-OLEH DARI BANDUNG 5 OKTOBER 2013

Standard

Hari Sabtu 5 Oktober yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Bandung setelah 6,5 tahun lamanya saya tidak ke sana. Suatu waktu yang cukup lama bagi saya. Agenda utama kunjungan saya adalah mengikuti  Munas KOSTI [KOmunitas Sepeda Tua Indonesia] yang berlangsung di Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika.

KOSTI itu komunitas para onthelis/sebutan untuk pecinta sepeda tua/kuno, yang setiap sekian tahun sekali menggelar even tahunan di sela-sela even bulanan. Akan tetapi kalau namanya Munas pasti lebih istimewa karena yang hadir juga undangan khusus yang terdiri dari para  pengurus KOSTI di setiap propinsi dan kab/kota di Indonesia. Mulai dari Aceh, Riau, Sumsel, Lampung, seluruh Jawa, Kalimantan, Sulsel, dlll berkesempatan menghadiri acara ini.

Berfoto bersama di depan tugu 0 km Bandung di Jalan Asia Afrika.

Tetapi saya tidak akan menceritakan tentang kegiatan Munas itu atau perjalanan saya di Bandung dengan pesona bangunan tuanya di ruas jalan di Braga. Ataupun mengisahkan tentang pesona “neng geulisnya” yang ternyata memang cantik-cantik atau merasakan enaknya kuliner dari bumi Pasundannya. Karena ternyata ada hal penting yang perlu saya informasikan kepada Kerabat KOTA TOEA MAGELANG. Yaitu mengenai bertemunya saya dengan pak Sudarsono Katam, penulis buku “Bandoeng Tempo Doeloe” yang luar biasa itu.

Hari Sabtu siang ketika saya mengunjungi pameran buku di Landmark, sebuah tempat pameran yang ada di ujung Jalan Braga, saya sempatkan mampir ke sebuah stan  yang khusus menjual buku-buku lawas yang bernama “Lawang Buku”. Disini saya membeli sebuah buku berjudul “Gedung Sate” karya Sudarsono Katam. Buku ini sangat menarik karena mengulas tentang sejarah pembangunan Gedung Sate, gedung ikon di Kota Bandung yang kesohor itu. Saat ini Gedung Sate menjadi kantornya Guvernoor West Java.

Di saat itu saya ngobrol-ngobrol dengan kang Deny selaku penjaga stand. Dia  mengatakan jika pak Sudarsono kebetulan juga sedang mengunjungi pameran buku tersebut.

Singkat cerita ternyata benar apa yang dikatakan oleh Kang Deny, ternyata pak Soedarsono mampir lagi ke stand buku lawas milik Kang Deny itu. Menurut Kang Deny, sangat langka sekali pak Soedarsono mengunjungi pameran buku dikarenakan usianya memang sudah “sepuh”. Maka sungguh sangat beruntung jika saya hari itu bisa bertemu dengan beliau. Akhirnya saya memperkenalkan diri dan menyempatkan mengobrol dengan beliau. Ternyata beliau sangat ramah dan antusias sekali dengan apa yang saya bicarakan. Termasuk aktivitas kami di dunia heritage di Magelang. Dimana dia mendukung jika semakin banyak anak muda yang terjun ke dalam dunia heritage. Pak Sudarsono menceritakan juga tentang buku-buku karyanya yang lain yang di jual juga di stand yang lain. Tak saya sangka, orang tua berambut putih dan berkacamata itu orang yang sangat di kenal di Bandung.

Sekitar 15 menit kami berbincang2 sehingga saya buru2 untuk meminta tandatangannya di buku karyanya yang barusan saya beli. Akhir cerita beliau pulang ke rumahnya selepas mengunjungi pameran buku itu. Tetapi saya melanjutkan kunjungan saya ke stan yang lain, termasuk membeli buku karya pak Soedarsono Katam yang lain dengan judul “Bandoeng Tempo Doeloe” dan “Oud Bandoeng dalam Kartu Pos”.

Saya pesimis apakah akan bertemu lagi dengan beliau atau tidak karena belum tentu saya bisa ketemu mengingat posisi saya yang ada di Magelang. Tetapi saya sungguh beruntung karena saya berhasil mendapatkan 3 buku karya pak Sudarsono yang saya sukai itu. Buku itu adalah  “Alboem Bandoeng Tempo Doeloe”, “Oud Bandoeng dalam Kartu Pos” dan “Gedung Sate”. Akhirnya saya mendapatkan 3 buku yang sangat luar biasa bagi saya dan masyarakat Bandung itu. Surprise pokoknya.

Minggu sorenya dengan ditemani kawan saya dari Jakarta, kami berkunjung ke kawan saya seperjuangan yang aktif di Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung di Jalan Martadinata, Mang Kokok dan Mang Samudera. Saya ceritakan kunjugan saya ke Bandung termasuk bertemunya saya dengan pak Sudarsono Katam. Ternyata Mang Kokok kenal baik dengan Pak Sudarsono Katam itu. Dan bahkan bersedia mengantarkan saya menuju ke rumahnya. Rumahnya ternyata tidak begitu jauh, cuma berjarak kurang lebih 500 meter dari sekretariat Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung.



Oud Bandoeng dalam Kartu Pos
Menjelang 200 Tahun Bandung
Sudarsono Katam 
(17,5 x 24) cm; 316 hlm; mate paper 120 gr; 2009
ISBN: 979-17710-3-0
Rp 150.000,00

Minggu malam jam 7 kami bertamu ke rumahnya. Sebuah rumah kuno namun masih keliatan asri dengan di hiasi oleh tanaman dan bunga-bunga yang indah. Kami diterima di ruangan samping rumah berukuran 3×2 meter dengan 4 kursi. Sebuah rak buku berisi buku-buku kuno ada di samping tembok.

Singkat kata pak Soedarsono berkenan menerima kami dengan kesederhanaanya, berkaos dan bercelana pendek saja. Dalam silaturahmi kami beliau menceritakan panjang lebar soal cara menulis buku sejarah meskipun bukan seorang sejarawan. Tidak sungkan-sungkan dia berbagi tips agar bagaimana buku menjadi layak baca, menarik, enak di baca dan memberi pengetahuan kepada pembacanya. Tetapi beliau berpesan agar ketika membuat buku tujuan utamanya adalah mencerdaskan masyarakat. Artinya jangan keuntungan materi yang di jadikan sebagai tujuan utama.

Menurutnya, jika mau menulis sebaiknya mengumpulkan bahan-bahannya sebaik mungkin dan sebanyak mungkin. Tentunya bahan tulisan bisa didapatkan dari berbagai sumber, misalnya dari arsip, buku, foto, wawancara dan sebagainya. Tulislah materi tulisan dari bahan-bahan yang ada. Jangan berpatokan pada teori karena hanya akan menyumbat materi tulisan. Soal tata bahasa secara proses akan bisa diperbaiki, termasuk adanya editor yang nantinya akan menyelaraskan bahasa.

Pak Sudarsono pun berkisah jika dia dalam membuat sebuah buku bisa mencapai 8 bulan, dengan catatan bahwa bahan-bahan tulisan sudah ada dan tersaji. Jika bahan tulisan belum ada hanya akan menunda penulisan yang akhirnya akan menghambat dari proses pembuatan sebuah buku. Karena harus mencari bahan tulisan yang belum ada.


Petualangan saya ke Bandung membawa saya kepada pak Soedarsono Katam [tengah], penulis “Bandoeng Tempo Doelo”e bersama Mang Kokok [kanan].

Pak Sudarsono Katam lahir di Kotabumi Lampung, dimana perkenalan pertamanya dengan Bandung di awali pada tahun 1950 ketika dia dibawa oleh orangtuanya ke Bandung. Kemudian di tahun 1954 bersama keduaorangtuanya berpindah ke Bandung. Bandung lebih mengenalkannya pada dunia filatelis, numismatik dan buku. Kecintaannya kepada Bandung membuatnya bergabung dengan Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung. masa pensiunnya di jalaninya dengan mengelola sebuah kios buku.

Album Bandoeng Tempo Doeloe

Penulis : Sudarsono Katam

Penerbit : Navpress
Tahun Cetak : 2005
Halaman : 375 Hal
Panjang : 28,5 cm

Yang menarik adalah jika Pak Soedarsono dulu pernah berkunjung ke Magelang. Beliau bahkan menceritakan masa kecilnya jika sewaktu datang di Magelang dengan orangtuanya. Saat itu dia menginap di sebuah hotel kecil milik orang Cina. Tapi sayang hotel di tengah kota itu kotor karena di sprei tempat tidurnya masih ada bekas telapak kaki orang. Akhirnya, ibu dari pak Sudarsono menggelar semacam kain ke lantai bawah untuk menidurkan Sudarsono kecil. Hanya kenangan itu yang masih bisa diingat tentang Magelang. Tetapi beliau mempunyai seorang sahabat yang bernama Ajip Rosidi, sastrawan angkatan 66 yang tinggal di Pabelan, dekat Muntilan.

Buku “Gedung Sate Bandung” tebal 225 halaman, ukuran kwarto 21×29 cm

Sungguh sangat beruntung sekali saya berhasil bertemu dengan beliau, menerima ilmu yang sangat bermanfaat bagi diri saya dan semoga juga bisa buat orang lain. Dan yang pasti suatu saat nanti Bandung akan membawa saya untuk kembali lagi ke sana. Bandung, Parisj van Java. Bandung euuuuyyyy……I will comeback to you…

Sudarsono Katam dengan koleksi bukunya.

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

11 responses »

  1. asyik sekali perjalanan ke bandungnya mas.
    menjalani hidup dengan penuh cinta. super sekali mas🙂

    • berkat doa kawan2 juga mas….alhamdulillah…tapi kemarin harus jalan kaki dulu sejauh 5 kilometer dari Stasiun Kiara condong-Gedung Sate-Braga-Gedung Merdeka-Braga…tapi bisa terbayar dengan hasil yang di terima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s