Liputan dari Remboeg Sedjarah : Sejarah Kelam Orang Indo Di Magelang.

Standard

MAGELANG SELATAN-

Komunitas Kota Toea Magelang sebuah komunitas pencinta sejarah mengadakan kegiatan Sarasehan Remboeg Sedjarah dengan bertempat di sebuah rumah makan di Mertoyudan Magelang, Minggu (01/09) pukul 18.30 WIB.

Dalam kegiatan tersebut membahas tema “Orang-orang Indo di Kota Magelang periode 1906-1942” sebuah artikel dari hasil skripsi Tedy Harnawan Sarjana Sejarah UGM.
“Cukup menarik dalam paparan narasumber kali ini membawakan pengetahuan baru bagi komunitas ini, karena cukup minim data yang bisa didapat terkait dengan keberadaan orang Indo di Magelang,” ucap Bagus Priyana Koordinator Komunitas Kota Toea.Dalam paparannya Tedy tertarik mengulas keberadaan orang Indo yang berdomisili di Magelang.
Sebutan orang Indo sendiri adalah peranakan hasil perkawinan pribumi dengan warga eropa. Dimana dalam masa itu orang Indo tersebut mengalami diskriminasi dari orang-orang eropa yang kala itu berstatus sebagai penjajah bangsa Indonesia.
Banyak faktor yang melatar belakangi lahirnya orang Indo, salah satunya adalah pada saat itu penjajah banyak mengirim tentara (KNIL Belanda), dimana para tentara tersebut datang tanpa membawa keluarganya, karena biaya hidup akan melonjak, tentu saja pihak Belanda tidak mau menanggung hal tersebut.
Tedy Harnawan [kiri] sang nara sumber sedang mempresentasikan makalahnya
Karena itu banyak tentara penjajah (entah menikah resmi atau tidak) memilih wanita pribumi sebagai tempat melepas hasrat tersebut. Atas perbuatan itu banyak lahir orang Indo, namun kebanyakan nasib mereka terlantar, bahkan hidup di garis kemiskinan. Hal tersebut mengetuk hati Van der Steur untuk membuat panti penampungan untuk menampung anak-anak orang Indo tersebut, panti tersebut terletak di sebelah utara gedung Eks Karisidenan Kedu Magelang.
“Banyak orang Indo yang ditinggal oleh ayah mereka yang berstatus tentara, dimana harus berperang. Dan para wanita pribumi ini ada yang terpaksa menjadi gundik karena posisi tersebut,” tutur Bagus yang menjadi moderator saat pemaparan berlangsung.
Salah satu bentuk diskriminasi tersebut adalah, tidak diterima di kalangan Eropa, seperti tidak boleh berenang bersama orang Eropa. Namun demikian orang Indo berusaha mendapat tempat di kalangan Eropa, seperti dengan berdandan gaya Eropa, makanan Eropa, dan gaya hidup Eropa lainnya.
Di hadiri juga oleh Cameron, mahasisiwa S3 UGM dari Amerika Serikat
“Karena pada saat itu pribumi dianggap sebagai kelas no 3, sedangkan kelas no 2 dihuni oleh pendatang timur jauh, sedangkan kelas utama adalah orang Eropa. Maka orang Indo enggan masuk ke pribumi, namun ditolak di kalangan Eropa oleh sebab itu mereka mengambil gaya hidup Eropa agar diterima.
Namun nasib orang Indo di jaman sekarang berbeda, mereka cenderung menempati status sosial yang tinggi, terbukti wajah Indo lebih mudah menjadi artis,” pungkas Bagus.(mg22)..
BERBAGI WAWASAN. Sarasehan Remboeg Sedjarah Komunitas Kota Toea, berbagi wawasan sejarah orang Indo di Magelang pada masa kolonialis.
Para peserta berfoto bersama di depan lokasi acara di Latar Kuncung Bawuk

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s