Di Bawah Bayang-bayang Modernitas: Orang-orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942

Standard

Di Bawah Bayang-bayang Modernitas:

Orang-orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942

Tedy Harnawan[1]

A.     Dari Manakah Orang-orang Indo di Magelang?

            Orang-orang Indo di Magelang banyak yang telah melakukan pernikahan secara resmi dan membentuk keluarga. Mereka menikah dengan laki-laki Eropa totok yang bekerja sebagai tentara atau pegawai pemerintah. Mereka juga memiliki rumah-rumah pribadi yang berada di kota di sekitar alun-alun kota atau dekat tangsi militer.

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d8/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_echtpaar_Pietermaat_met_Mej._Mulder_op_de_veranda_van_hun_woning_op_de_suikeronderneming_Kalibagor._TMnr_60004317.jpg

Gaya hidup orang Indo dapat terlihat dari penampilannya. Tapi foto di atas sangat unik karena si bule memakai kebaya dan jarit batik yang identik dengan pribumi. [foto : Tropen Museum]

1.                      Pengusaha Perkebunan dan Para Ambtenaar

Jumlah orang Indo di perkebunan menjadi yang paling sedikit di Magelang. Mereka adalah anak-anak orang Indo yang terpandang karena memiliki tanah yang luas.[1] Anak-anak ini mendapat sekolah yang lebih baik dari anak-anak Indo yang lainnya. Sejak Magelang menjadi daerah kotapradja, pegawai pemerintah banyak yang dipegang oleh laki-laki Eropa dan Indo. Mereka disebut para ambtenaar. Anak-anak pegawai (ambtenaar) ini cukup banyak. Mereka juga lahir dari laki-laki Eropa dan perempuan pribumi yang mendapat pendidikan memadai dan bekerja sebagai juru tulis, pemilik toko-toko dagang atau pelayan toko.[2]

Orang-orang yang duduk dalam pemerintahan cukup banyak. Orang-orang Eropa selalu mengisi jabatan-jabatan strategis. Di Magelang atau di kota-kota lainnya, pada dasarnya para ambtenaar yang berasal dari orang Eropa, pribumi dan Cina ini terbagi ke dalam dua wilayah pekerjaan, yaitu mereka yang bekerja untuk pemerintah (sipil) dan pegawai swasta. Mereka yang bekerja sebagai pegawai sipil bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda yang bertugas sesuai birokrasi pemerintahan.  Orang-orang Indo yang bekerja sebagai pegawai swasta banyak yang bekerja di bidang pariwisata. Mereka mendirikan toko-toko, hotel-hotel. Banyak diantara mereka yang bekerja menjadi pemandu wisata karena kemampuan bahasa Melayu dan Belanda sangat bagus.[3] Sebagain dari mereka juga mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Orang-orang sipil bekerja di kantor-kantor pemerintahan bekerja sebagai residen, asisten residen, sekretaris, juru tulis dan kepala-kepala bagian yang mengepalai suatu badan tertentu. Dari catatan pengeluaran gaji bisa diketahui jabatan-jabatan yang diduduki orang-orang ini. Pada tahun 1930, orang-orang Eropa di kota Magelang banyak yang bekerja sebagai opas kantor (kantoor oppasser), pegawai kantor (persooneel), sekretaris (secretarie), komisaris (commisarie), ajudan komisaris (adjudant commisarie) dan komisaris besar (hoofd commisarie).[4]

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/KITLV-AchterkampementMagelang1910.jpg

Blok tangsi di Magelang

Orang-orang Indo sipil ada yang bekerja dalam kemiliteran. Mereka yang hidup di dalam lingkungan tangsi adalah orang-orang militer. Jabatan tinggi dipegang oleh Eropa totok sementara jabatan di bawahnya dipegang oleh orang-orang Indo seperti juru tulis dan pengajar di dalam tangsi. Namun, orang-orang Indo justru lebih banyak dari istri-istri anggota militer dan anak-anaknya. Mereka membina keluarga di dalam maupun di luar tangsi. Mereka  sebagian besar adalah para pendatang yang tinggal di kota Magelang selama masa tugasnya. 

https://i0.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/GebouwvandeHoofdwachtProvoosthuisMilitaireMagelang1927.jpg

Markas tangsi militer Belanda di Magelang

Salah satu yang harus disebut sebagai orang-orang yang bekerja di dalam lingkungan sipil adalah polisi. Anggota polisi ini sebenarnya bekerja antara sipil dan militer. Sejak reorganisasi kepolisian tahun 1897, salah satu perubahan yang terjadi adalah diresmikannya kepolisian bersenjata (gewapende politie). Mereka berkedudukan diantara kepolisian dan militer sebagai unit cadangan yang dipersenjatai yang berada di bawah kendali pemerintah sipil.[5] Di kota Magelang, sebagian besar jabatan mereka adalah sebagai polisi kota (stadspolitie), polisi lapangan (veldpolitie), reserse (recherche) dan agen (agent). Dalam beberapa laporan, jumlah polisi ini lebih banyak dijabat oleh orang-orang pribumi.

 

2.      “Anak-anak Kolong” dan Steurtjes

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/15/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Tehuis_van_vader_Van_der_Steur_voor_verwaarloosde_kinderen_te_Magelang_Java_TMnr_10002248.jpg

Van der Steur dengan kawan-kawannya [tropen museum]

Kehidupan para tentara di Magelang pada abad ke-19 sangat buruk. Dari 2.384 kepala keluarga militer, sebanyak 17% tentara Eropa hidup dalam kemiskinan dan sepertiga dari mereka adalah para pensiunan tentara yang hidup sangat miskin dan menjual minuman alkohol ilegal, melakukan praktik prostitusi dan perjudian.[6] Mereka banyak yang hidup dengan gundik-gundik yang tinggal di kampung-kampung sehingga banyak melahirkan anak-anak di luar nikah. Anak-anak itu lalu disebut sebagai “anak kolong”[7] yang sangat banyak di Magelang.

https://lh5.googleusercontent.com/-CLIJCvJ06vw/TChrhq3Pz8E/AAAAAAAAQPQ/t-W9oYXR1kY/s250-c-k-no/270609PartyPaVanDerSteur

Van der Steur dengan istri

Orang-orang Eropa dan Indo banyak yang menempati posisi dalam militer. Mayoritas pegawai-pegawai kemiliteran ini telah menikah. Berdasarkan pengakuan seorang anak Indo yang ayahnya bekerja sebagai KNIL di Magelang menjelang akhir periode kolonial, orang-orang Indo banyak yang bekerja di dinas militer yang menghasilkan “anak kolong” atau “anak tangsi” dari gundik para pribumi.[8] Ia mengatakan bahwa rumah-rumah dinas militer di Magelang sangat banyak didiami oleh keluarga-keluarga Indo, khususnya istri-istri mereka. Mereka ada yang tinggal di dalam tangsi militer namun kebanyakan dari mereka tinggal di perkampungan.

Kehidupan militer di Magelang sebelum abad ke-20 dikenal sangat keras bahkan lebih buruk daripada hidup di kompleks perkampungan. Tentara-tentara militer Eropa di Magelang adalah laki-laki peminum minum-minuman keras ilegal dan kebiasaan mereka yang sering mendatangi rumah bordil.[9] Dalam keadaan yang demikian, seorang pastur Kristen bernama Van der Steur tampil sebagai sosok penyelamat moral-moral bejat tentara militer Eropa di Magelang, terutama anak-anak yang lahir tidak sah.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/09/03b8d-2pavandersteurtemiddenvaneengroepjeindokinderendienietmeerbijhunmoederkondenwonen1906javamagelang.jpg

Van der Steur dengan anak-anak asuhnya

Pada Januari 1893, ia tiba di Magelang. Ia kemudian menyewa rumah kecil seharga f 20 per bulan dan membangun pendopo kecil yang kemudian kompleks rumahnya ini disebut sebagai Oranje Nassau. Misi van der Steur sangat berhubungan dengan misi Kristen dan kemiliteran. Suatu hari, seorang tentara bersenjata yang sedang mabuk menghampiri Van der Steur dan berkata “Bapak, jika anda adalah seseorang pribadi yang benar-benar taat kepada Tuhan, pergilah ke kampung. Di sana ada seorang bekas tentara Italia yang memiliki empat anak Indo dan seorang wanita pribumi yang hidup dalam kemiskinan.”[10] Setelah kejadian tersebut, Van der Steur mendirikan panti asuhan yang semakin berkembang dan berjuang mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial saat itu.

Banyaknya anak-anak Indo yang diasuh menjelaskan suatu gaya hidup pergundikan para tentara Eropa di Magelang. Anak-anak Indo di panti asuhan ini kemudian juga berdatangan dari luar kota. Jumlah anak-anak panti asuhan Van der Steur dilaporkan mencapai 800 anak tertanggal sampai 31 Desember 1907. Jumlah anak paling banyak yang diasuh adalah anak-anak tentara hasil pergundikan yang tidak diakui secara sah.

Jumlah anak-anak tentara menjadi mayoritas anak-anak panti asuhan dibandingkan dengan anak-anak pegawai sipil. Dari sekian jumlah anak-anak tersebut, sebagian besar merupakan anak-anak hasil pergundikan yang jumlahnya hampir lima belas kali lipat dari jumlah anak-anak yang lahir secara sah. Dari sekian banyak anak-anak yang diasuh, anak-anak yang tidak memiliki orangtua ternyata lebih banyak namun menunjukkan jumlah yang sebanding dengan anak-anak yang tidak memiliki ayah atau ibu atau anak-anak miskin yang tidak diurus orangtuanya. Di sini bisa disimpulkan bahwa Magelang memiliki masalah serius dengan pergundikan oleh para tentara militer.

https://i2.wp.com/gw.geneanet.org/file/genewebfile/p/v/pvandorssen/Pa_van_der_Steur.jpg

Van der Steur

Orang-orang Indo kelahiran Magelang mayoritas adalah orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Mereka lahir dari para tentara yang menikah dengan perempuan lokal dan memutuskan untuk tinggal di perkampungan setelah masa tugasnya selesai. Anak-anak yang lahir dari keluarga yang demikian yang akhirnya masuk ke panti asuhan Van der Steur.

 

B.     Gaya Hidup Orang-orang Indo Di Tengah Kota Magelang

Pada permulaan abad ke-20, kebudayaan Indis menurut Djoko Soekiman telah bergeser ke arah urban life.[11] Abad modern memperlihatkan simbol-simbolnya yang baru. Dampak paling signifikan di abad ke-20 adalah semakin kuatnya pemisahan etnis dan ras di dalam masyarakat. Semakin banyaknya orang-orang Eropa totok di Hindia Belanda menyebabkan sebuah pandangan baru bagi orang-orang Indo yang masih memiliki darah Eropa.

 

A)      Menggosip dalam Societeit

Istri dari laki-laki Eropa sebagian besar waktunya hanya dihabiskan di rumah. Untuk menjalin keeratan hubungan dengan sesama perempuan Eropa, mereka berinisiatif untuk mengadakan perkumpulan-perkumpulan. Persatuan ini berkembang pesat seperti Vereeniging van Huisvrouwen van Nederlands Indie yang membuka cabang di kota-kota besar di Jawa. Mereka bahkan mencetak majalah di berbagai kota dengan pusat kantornya di Bandung. Kota-kota tersebut antara lain Batavia, Buitenzorg, Cheribon, Djokja, Malang, Medan, Palembang, Semarang, Soekabumi, Soerabaia dan Solo. Magelang juga menjadi salah satu kota yang bergabung dalam perkumpulan ini.

Societeit de Eendracht di utara Aloon-aloon, tempat orang-orang Belanda dan Indo berdansa [foto : KITLV]

Seperti Vereeniging van Huisvrouwen van Nederlands Indie, para perempuan Eropa di Magelang juga menerbitkan majalah yang dinamakan Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen Magelang. Apa yang menginspirasi tulisan-tulisan di dalam majalah ini menunjukkan sebuah parameter gaya hidup baru yang sebenarnya terbatas bagi para perempuan-perempuan kelas menengah ke atas. Para anggota perkumpulan perempuan dan societeit kemudian tidak bisa dipisahkan. Para anggota perkumpulan ini mayoritas juga menjadi anggota Societeit. Pemimpin pertamanya adalah Mevrouw van Gorkom yang juga istri pengusaha toko Apotheek van Gorkom yang sering menjual bahan-bahan kecantikan.[12]

Tempat berdansa para Sinyo dan Noni di Societeit de Eendracht

Salah satu societeit atau soos yang paling terkenal di Magelang adalah De Eendracht yang berada di alun-alun kota. Anggota Soos ini adalah para istri-istri pejabat tinggi atau jabatan penting lainnya dalam pemerintah. Tidak semua perempuan Indo biasa percaya diri untuk masuk ke dalam Soos ini.[13] Kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah mengadakan perkumpulan bersama, kunjungan wisata dan demo masak. Keuntungan yang bisa didapatkan menjadi anggota perkumpulan ini ialah mendapatkan potongan harga pada beberapa toko-toko di Magelang. Seluruh kegiatan sering diadakan di dalam gedung Soos ini. Pemerintah Kotapradja Magelang menetapkan pajak bangunan societeit sebesar f 75.[14]

Tempat bermain bola sodok di societeit

Selain Societeit De Eendracht, terdapat juga Societeit De Militair yang berada di dalam tangsi Magelang. Societeit ini lebih dipergunakan oleh keluarga-keluarga dan istri-istri pejabat militer yang kelasnya lebih rendah. Banyaknya orang Cina di kota Magelang membuat pemerintah juga membangun societeit untuk mereka. Societeit ini berada di Pecinan.

 

B) Bersolek ala keluarga Dames dan Heeren

Penyebutan dames sering digunakan pada majalah-majalah populer di Hindia Belanda untuk menyebut perempuan-perempuan berstatus Eropa yang lebih mengacu pada perempuan-perempuan yang telah bersuami. Keluarga seperti dames dan heeren[15] kemudian menjadi cerminan keluarga yang ideal bagi orang-orang Indo. Perempuan Indo sangat memperhatikan penampilan karena meniru perempuan Eropa totok. Tempat paling cocok untuk berdandan adalah salon. Salon menjadi ruang baru untuk menata diri khususnya para perempuan.

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/de%20tuin%202/EuropesevrouwenvooreenwoningteMagelang1900.jpg

Lihatlah gaun yang di pakai oleh para noni-noni ini.

“Salon Stiller” di Groote Weg Noord melayani penataan gaya-gaya rambut model terbaru. Gaya rambut pendek saat itu menjadi tren paling menarik untuk perempuan dewasa. Gaya rambut pendek ikal dan keriting menjadi sangat populer. “Salon Stiller” mampu melayani para pelanggan untuk membuat rambut tetap terlihat ikal dan basah. Demo-demo kecantikan terkadang diadakan secara eksklusif di dalam Societeit Een Dracht.

Setelah berdandan rapi, hal yang paling penting lainnya adalah parfum. Parfum memberikan kesan wangi dan bugar. Dalam majalah Onze Samenleving, para perempuan Eropa dan Indo sangat menyarankan para wanita untuk selalu memakai parfum setiap hari. Aktivitas dengan orang-orang pasar yang bau dan bercampur dengan orang-orang peminum alkohol harus diatasi dengan memakai parfum berbau wangi.[16] Parfum dapat dibeli di toko-toko Eropa di kota Magelang seperti di “Apotik van Gorkom &  Co.” yang menjual parfum-parfum impor dari Paris.

Adopsi pakaian Barat sebagai kostum perempuan di Jawa dimulai di kalangan kaum Indo.[17] Perempuan Indo di Magelang masih menggunakan kebaya putih dan kain sarung. Pakaian-pakaian Barat hanya digunakan untuk bepergian atau bertemu dengan teman di luar rumah. Iklim Hindia Belanda yang ekstrim menginspirasi perempuan-perempuan Eropa dan Indo untuk memakai mode pakaian empat musim seperti di Eropa. Di kota Magelang yang cukup sejuk dan dingin, pakaian musim semi banyak yang sedang menjadi pusat perhatian para penjahit pakaian, misalnya blouse, ikat pinggang, dasi dan topi. Paris masih menjadi tren mode sampai tahun 1930an disamping London dan Amerika.

Dalam hal gaya mode pakaian, peran penjahit (tailleur) menjadi sangat penting. Para perempuan Eropa dan Indo kaya di kota Magelang lebih memilih untuk menjahitkan bajunya pada penjahit profesional walaupun bisa dibeli di toko busana Eropa di Semarang.

C)  Lezatnya Hidangan Eropa

Anak-anak Van der Steur biasanya makan tiga kali sehari dengan nasi, daging, ikan, sayuran dan kadang-kadang dengan sambal. Biasanya mereka akan makan makanan yang spesial hanya pada hari Sabtu. Namun, sebagai kepala panti asuhan, Van der Steur melarang anak-anak panti asuhan makan makanan yang mengandung banyak gula. Makanan-makanan Eropa seperti lemonade, kue-kue manis, roti isi keju, selai dan daging hanya bisa dinikmati tiga kali dalam setahun dalam acara-acara perayaan seperti Hari Natal, Hari Ulang Tahun Ratu Belanda dan Hari Ulang Tahun Van der Steur. Mereka masih mendapatkan makanan yang lebih layak dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di perkampungan.

Anak-anak Indo dalam keluarga kaya makan daging dan roti hampir setiap hari. Ibu-ibu mereka sangat pandai memasak masakan Eropa dan setiap hidangan selalu menampilkan resep-resep Eropa yang didominasi oleh daging setiap minggunya. Makanan dengan bahan daging yang paling sering dimasak adalah steak. Daging-daging yang menjadi bahan dasar pembuatan steak adalah daging sapi (rundvleesch) dan daging babi (varkensvleesch). Dari harga pasar, daging babi lebih mahal daripada daging sapi.[18] Keluarga Indo yang beragama Kristen atau Katolik sangat menyukai daging babi atau dendeng tjeleng. Ketersediaan daging di kota Magelang didukung adanya rumah-rumah potong hewan (slachthuis) seperti di Muntilan.[19] Selain itu, schotel dan biefstuk merupakan makanan Eropa yang paling populer di dalam keluarga Indo.

Toko-toko di Magelang banyak yang menjual makanan dan minuman dari Eropa. Pesta-pesta, perayaan atau pertemuan penting sering memesan makanan-makanan Eropa seperti roti taart, kue coklat, biskuit, roti kering, susu dan buah-buahan kaleng. Banyak sekali toko-toko yang mulai menjual roti siap makan atau toko yang menjual bahan-bahan mentah bagi yang ingin mencoba-coba di rumah. Jalan Groote Weg merupakan pusat toko-toko perbelanjaan.

 

D)      Kemeriahan Pesta-pesta

Pesta harus diadakan untuk merayakan hari-hari spesial dalam keluarga Indo. pesta-pesta itu bisa berupa perayaan ulang tahun, perayaan perkawinan atau perayaan penerimaan tamu keluarga jauh dari luar kota. Keluarga yang mengadakan pesta akan berusaha menyediakan kemeriahan pesta sesuai kemampuan finansial mereka. Namun, beberapa hal yang harus ada dalam setiap kemeriahan pesta adalah makanan, champagne dan bunga.

Minuman beralkohol di kota Magelang sudah banyak dijual di toko-toko, terutama toko-toko milik orang Cina[20]. Bir dengan merk-merk terkenal seperti Anker, Heinekens, Diamant, Rex dan Java juga diperjualbelikan di toko “Pong”, “Victoria”, “Bie Sing Hoo” dan “Tang Ing Tjoan”. (lampiran hlm. 199). Ayah John Schell selalu minum Jenever ketika makan siang yang diberi sedikit gula yang sudah disiapkan djongos.[21]

https://i0.wp.com/sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/2606_1047404827367_3855687_n.jpg

Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokusuman Magelang

Sambil meneguk bier atau champagne, orang-orang Eropa juga merokok. Di kota Magelang sudah berdiri pabrik cerutu dan pabrik rokok. Pabrik cerutu pertama kali yang didirikan adalah pabrik cerutu Ko Kwat Ie. Pabrik cerutu lainnya adalah pabrik “Aroma” yang didirikan tahun 1924 namun baru pada tahun 1931 mendapatkan kesuksesan besar.[22] Hasil cerutu dari pabrik ini bahkan dipasarkan ke luar negeri seperti Siam, Shanghai, Singapura, Belanda dan Afrika.

https://lh6.googleusercontent.com/-R2imUlOmXeg/TXEW3Ji80jI/AAAAAAAAAS8/D_2KxEDFUuA/s320/DSC00533.JPG

cerutu Ko Kwat Ie

Salah satu perayaan terbesar yang pernah digelar di kota Magelang adalah upacara penyambutan Gubernur Jendral Hindia Belanda. Sepanjang jalanan kota dihiasi dengan lengkungan-lengkungan yang dihias dengan karangan bunga yang mewah. Bendera-bendera Hindia Belanda juga dipasang di sepanjang jalan Pecinan dan Residentielaan. Biaya untuk menyambut perayaan itu mencapai 2.000 gulden.[23] Di lingkungan militer, perayaan besar seperti St. Nicolaas menyedot banyak publik kota Magelang, khususnya anak-anak. Perayaan ini dirayakan oleh sekitar 1.520 anak-anak yang diadakan sore hari.[24] Perayaan besar tertentu menjadi agenda tahunan untuk melakukan karnaval di jalanan kota. Mobil, bunga dan kuda menjadi simbol perayaan besar. Para penonton merasa takut karena banyaknya pasukan berkuda yang banyak.[25]

Kebutuhan bunga tidak hanya dibutuhkan untuk menghias kebun rumah, namun juga menjadi kebutuhan pesta. Sebuah ungkapan umum yang berbunyi “katakan dengan bunga” menjadi bagian dari gaya hidup di lingkungan orang-orang Eropa di Hindia Belanda.[26] Bunga kemudian menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Banyak orang Eropa yang memiliki bloemkweekerij[27] untuk mendapatkan laba yang besar. Bisnis toko bunga (florist) banyak digeluti oleh para perempuan Eropa. Rangkaian-rangkaian bunga pun dijual di toko-toko bunga seperti Toko “Vanda”, Toko “Veronica” dan Toko “Art Floral”. Toko bunga “Art Floral” dan toko bunga “Vanda” sering menjadi langganan perempuan-perempuan Indo dan Eropa untuk mengadakan pesta-pesta di societeit Magelang.

 

E)       Layar Bioskop, Panggung Opera dan Musik

https://i1.wp.com/photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/307333_2142004711680_961846577_a.jpg

Al Hambra, bioskop ternama di jamannya

Sebelum Magelang memiliki gedung bioskop, societeit-societeit sudah memiliki bioskop kecil sendiri. Dari laporan notulen, pengadaan gedung bioskop bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih karena bisa dinikmati khalayak umum.[28] Magelang meresmikan pembangunan dua bioskop yang sangat populer yaitu Roxy Theater dan Alhambra Theater. Roxy Theater awalnya menyewa gedung di depan alun-alun dengan membayar uang muka sebesar f 2.500 dan harus membayar pajak bioskop sebesar f 400 per bulan.[29] Bioskop ini juga berdekatan dengan Societeit De Eendracht. Bangunannya pun cukup megah dengan struktur batu bata yang kuat dan dicat warna putih. Film-film yang ditayangkan adalah film-film dari luar negeri. Pemilik bioskop ini adalah orang Cina yang bernama Kho Tjie Ho. Bisnis perfilman di Magelang dimonopoli oleh orang Cina tetapi mayoritas konsumennya adalah orang-orang Eropa.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/09/b2387-jimmy26sally.jpg

Poster film di bioskop Al Hambra

Selain menonton layar film, orang-orang di kota dihibur oleh beberapa musisi-musisi opera yang mengadakan konser. Konser-konser opera menjadi alternatif hiburan yang baru di kota Magelang. Salah satu musisi yang pernah diberitakan di koran adalah musisi Rusia bernama Mirovitch dan Piastro.[30] Mereka sukses memberikan antusiasme tinggi para penikmat opera di kota Magelang.

Anak-anak Indo di dalam panti asuhan Van der Steur dilatih bermain orkes musik (muziekkapel). Orkes musik ini hanya dilatih untuk anak-anak laki-laki saja. Mereka belajar meniup alat-alat musik Eropa yang belum pernah mereka nikmati sebelumnya. Masing-masing anak akan membawa satu alat musik seperti klarinet, trompet dan drum. Dalam beberapa kesempatan mereka diminta untuk mengisi berbagai acara besar seperti karnaval atau perayaan besar lainnya.

 

F)     Pelesir

 

Di abad ke-20, siapa saja bisa menikmati perjalanan wisata jika memiliki penghasilan yang lebih. Berdasarkan laporan buku kas tahunan diketahui banyaknya biaya perjalanan (reiskosten) yang dikeluarkan pemerintah cukup besar. Selain gaji pokok yang mereka terima, mereka juga menerima tunjangan gaji perjalanan yang hampir setengah dari gaji pokok. Tunjangan gaji perjalanan para pejabat di Magelang adalah tunjangan tertinggi di Karesidenan Kedu. Tingginya biaya tunjangan dikarenakan Magelang adalah ibukota karesidenan Kedu. Besarnya tunjangan juga disebabkan karena pendapatan daerah yang cukup tinggi.

Orang-orang Eropa kaya di kota Magelang sangat suka bepergian. Hari minggu dipilih karena hari libur dan waktu istirahat dari pekerjaan mereka yang sibuk. Selain pergi ke gereja, mereka akan pergi ke luar kota atau ke daerah objek wisata. Mereka naik mobil, delman (deeleman) atau kuda. Disamping tjikar dan grobak, sado dan delman menjadi transportasi yang akrab karena telah menggunakan roda karet dan digerakkan oleh motor.[31]

Ibu-ibu rumah tangga Indo sering mengajak anak-anaknya untuk berenang. Fasilitas kolam renang disediakan di Hotel Loze yang sangat populer di kota Magelang. Air kolam renang di hotel ini sangat jernih. Anak-anak Indo menengah ke atas sering berenang di sini, namun tidak semua anak dapat berenang di sini.

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/381161_2684714790331_1669103731_n.jpg

Kolam renang di Hotel Loze

 

G)      Kamera-kamera

Salah satu yang paling terkenal adalah Lee Brothers Studio yang berpusat di Singapura dan membuka tiga cabang di Hindia Belanda, yaitu di Batavia, Magelang dan Bandung.[32] Dalam sebuah foto kuno, tergambar dengan jelas sebuah keluarga yang harmonis. Dalam satu kursi kayu duduk seorang perempuan Indo dengan gaun warna abu-abu. Di sebelah kirinya duduk anak laki-lakinya. Dia menggunakan kaos kaki panjang dan sepatu kulit hitam yang sangat mengkilat. Di sebelah kanannya berdiri kedua anak perempuannya. Di sudut kanan bawah tertulis dengan samar-samar Midori Magelang.

Midori ialah studio foto di kota Magelang yang sangat terkenal. Dalam iklannya ditulis Japansch Fotografisch-Atelier. Sesuai dengan namanya, Midori adalah orang Jepang yang membuka usaha fotografi. Ahli fotografer Midori sangat profesional. Jasa pemotretan bisa dilakukan di dalam studio (atelier opnamen) atau di luar studio (buiten opnamen) yang bisa ditelepon untuk datang ke rumah. Pemotretan juga bisa dilakukan di malam hari dengan penerangan yang dipersiapkan dengan alat-alat yang modern. Studio ini juga menyediakan pembuatan dan pemasangan figura foto. Letak studio foto ini berada di Groote Weg Zuid No. 116.

 

H)      Mempercantik Rumah dan Berkebun

Hal yang paling utama ialah menjaga kebun di depan rumah. Tepat di pinggiran beranda biasanya mereka menaruh pot-pot besar yang ditanami bunga-bunga atau tumbuh-tumbuhan hijau. Bagaimanapun juga, perempuan Indo harus bisa merawat bunga dengan baik karena cita rasa kebun Hindia tidak dimiliki perempuan-perempuan Eropa totok.[33] Berkebun sudah menjadi kebiasaan orang-orang Indo di dalam rumah untuk mengisi waktu luang mereka. Sudah sangat wajar bila berkunjung ke rumah mereka akan disambut dengan banyaknya pot-pot bunga yang besar dan terawat dengan baik.

Penanaman bunga yang paling baik adalah akhir musim hujan.[34] Benih-benih bunga bisa dipesan di toko-toko bunga di kota Magelang. Tanaman-tanaman yang akan ditanam di dalam bak harus ditusuk dengan bambu kecil agar udara masuk ke dalam tanah dalam pot. Tanaman yang paling direkomendasikan bagi kebun rumah di Magelang adalah jenis Zinnia, Phlox dan Petunia karena dapat tumbuh dengan bagus di Magelang.[35] Selain mudah dirawat juga memiliki variasi bunga warna-warni. Pupuk-pupuk bunga sudah banyak dijual di Magelang. Penyiraman harus selalu dilakukan setiap hari terutama saat musim kemarau.

 

I) Dimana Anjingku?

Dalam transformasi gaya hidup yang unik abad 20 adalah orang-orang kaya yang mulai memelihara binatang peliharaan. Binatang-binatang itu biasanya anjing, burung kakatua, kucing dan kuda. Di kantor pemerintahan, anjing-anjing juga dipelihara. Dalam laporan keuangan, biaya pemeliharaan anjing mencapai f 140 per bulan.[36] Anjing peliharaan harus anjing yang jinak dan bukan anjing kampung yang kotor dan senang berkeliaran di kampung-kampung. Anjing kampung (pariah dogs) sangat banyak di kampung dan desa-desa.[37] Bagaimanapun juga, anjing rumah itu anjing yang bersih dan gemuk. Adanya akses dokter hewan di kota Magelang menjadi profesi yang menguntungkan karena dibayar f 25.[38]

Sebuah keluarga Indo kaya di Jawa ataupun di Magelang, kuda dipelihara untuk transportasi alternatif pribadi. Kuda ini juga bisa dipakai untuk belajar bermain pacuan kuda di lapangan terbuka seperti di lapangan Bukit Tidar. Dalam laporan keuangan pemerintah Begrooting Boek Magelang tahun 1930 bagian Laporan Perbaikan dan Perlengkapan Personil Polisi Eropa (Vergoeding van Kleeding en Uitrusting European of Het Persoonel Veld Politie), makanan kuda (paarden fourage) dan biaya perawatan kuda selalu ada dalam laporan keuangan setiap tahunnya.[39]


[1]Mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada 2009.

[2]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [3]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [4]M. McMillan, A Journey To Java, (London: Holden & Hardingham, 1914), hlm. 89.

 [5]Begrooting Boeks Magelang, 1930.

[6] Marieke Bloembergen, Polisi di Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan, (Jakarta: Kompas, 2011), hlm. 71.

 [7]Hanneke Ming, “Barrack-Concubinage in Netherlands Indies 1887-1920” dalam jurnal Southeast Asia Publications di Cornell University, hlm. 76.

 [8]“Anak Kolong” adalah sebutan bagi anak-anak yang lahir dan hidup di dalam lingkungan militer dari hubungan pergundikan yang tidak sah.

 [9]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [10]Nederlandsch Indie Oud & Nieuw, tahun 1916, hlm. 411.

 [11]C.H.G.H. Brakke, Pa van der Steur: Vader van 7000 Kinderen, hlm. 30.

 [12]Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), hlm. 83.

 [13]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, Mei 1938, hlm. 13.

 [14]Wawancara dengan Andries Schell De Nijs, Sabtu 6 April 2013, pukul 17.24 WIB.

 [15]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, hari Senin tanggal 30 Januari 1922, hlm. 26.

 [16]Heeren berasal dari bahasa Belanda untuk menyebut laki-laki yang telah beristri dan merupakan arti berlawanan dari Dames.

 [17]Onze Samenleving, tahun 1923.

 [18]Jean Gelman Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial Tahun 1800-1940” dalam buku Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LkiS), hlm. 122-123.

 [19]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 27 Juni 1939, hlm. 29.

 [20]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [21]Minuman seperti champagne dan Jenever dijual di toko “Liong Hoe Ging”, Toko “Ong Hok Liem” dan Toko “Nanking”.

 [22]Wawancara dengan John Schell De Nijs, Sabtu 6 April 2013, pukul 17.24 WIB.

 [23]Parada Harahap, Indonesia Sekarang, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952), hlm. 141-142.

[24]Weekblad voor Indie, 12 November 1912, hlm. 723-724.

 [25]Het Nieuws van den Dag, hari Rabu, 7 Desember 1921.

 [26]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 1939, hlm. 10.

 [27]H.W. Ponder, Javanese Panorama, (London: Seeley, Service & Co.), hlm. 195.

 [28]Sebuah tempat untuk menanam kebun bunga dan membibitkan benih sendiri. Bisnis ini banyak digeluti oleh orang-orang Eropa. Biaya penanaman bunga di Hindia Belanda masih terbilang lebih murah dibandingkan di Eropa. Para pekerja kebun bunga mayoritas adalah para perempuan pribumi yang dibayar sangat murah, sekitar 20 sen. Permintaan bunga semakin meningkat dan keuntungan menjadi penjual bunga dalam toko bunga (florist) lebih menguntungkan. Baca buku H.W. Ponder, ibid.,

 [29]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, 8 Juni 1922, hlm.112.

 [30]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, 8 Juni 1922, hlm.112.

                                                                                                                        

[31]Het Nieuws van den Dag, hari Sabtu, 26 Februari 1916.

 [32]Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni, op.cit., hlm. 25.

 [33]ibid.

 [34]Breton De Nijs, Bayangan Memudar: Kehidupan Sebuah Keluarga Indo, op.cit., hlm 159.

 [35]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 17 Mei 1938, hlm. 11.

 [36]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 17 Mei 1938, hlm. 13.

 [37]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [38]H.W. Ponders, op.cit., hlm. 233.

 [39]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [40]Binnenland Bestuur, ANRI.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s