Dr. J.V. de Bruijn (1913-1979), sang petualang “Indiana Jones” kelahiran Magelang

Standard
http://search.socialhistory.org/bookcover.php?isn=30051002776935&size=small
Jean Victor de Bruijn, sang petualang dari Magelang
Dr. Jean Victor de Bruijn, seorang pegawai pamong praja dan ahli etnologi asal Belanda, menjadi pemeran utama dalam buku-buku ini sebagai “Jungle Pimpernel.” Tahun 1907, dua orang penjelajah Belanda, Lorentz dan Van Nouhuys, berkenalan untuk pertama kali dengan orang-orang Papua gunung. Tapi Dr. de Bruyn itulah orang kulit putih pertama yang hidup bersama suatu suku “Zaman Batu” di Pegunungan Tengah Nieuw Guinea Belanda selama bertahun-tahun. Suatu petualangan yang mengesankan, heroik, yang oleh seorang penulis resensi dicirikan sebagai “suatu anak panah di jantung diskriminasi rasial.”
Penemuan dan Pemerintahan Belanda di Pegunungan Tengah Nieuw Guinea Belanda

Kisah itu bermula dari pos pemerintahan Belanda di Enarotali, dengan Dr. J. V. de Bruyn sebagai Kontrolir. Dalam ucapan penduduk Ekari di kawasan itu, de Bruyn dikenal dengan sebutan Kontolule. Kawasan itu merupakan suatu lembah dengan tiga danau.
Ketiga danau di Enarotali dinamakan sesuai nama marga F.J. Wissel, seorang perwira penerbang AL Kerajaan Belanda, akhir 1936. Dia juga, bersama Atkinson (seorang mekanik asal AS) dan dua orang penumpang, orang kulit putih pertama yang mengamati danau-danau itu dari sebuah pesawat terbang Sikorsky bermotor ganda yang diterbangkannya. Kemudian, ketiga danau Wissel itu dikenal sebagai Danau Paniai, Danau Tigi, dan Danau Tage. Yang terluas adalah Danau Paniai.
Untuk mengenal Paniai lebih dekat, Wissel terbang beberapa puluh meter di atas permukaan danau itu. Penduduk Papua yang berperahu di danau itu baru pertama kali melihat benda terbang seperti itu. Ia seekor “burung dahsyat”, sangat menakutkan. Mereka sangat takut, terpaku di perahu-perahunya sambil melihat “seorang setan yang menderu-deru” dan “menukik dari langit.”
Tapi orang kulit putih pertama yang mendarat di Danau Wissel 11 November 1937 adalah Letnan Angkatan Laut Belanda, van Olm. Dia komandan tiga pesawat terbang AL Belanda yang mendarat di danau-danau itu. Dr. Cator ikut dalam penerbangan itu.
Sebelum Dr. J.V. de Bruyn bekerja di Enarotali, Dr. W. J. Cator, seorang Asisten Residen Belanda, berjumpa suku Ekari dan suatu klen besar suku Moni di kawasan itu pada 18 September 1936. Dia kembali ke pantai bagian Selatan NG. Pada tanggal 3 Desember 1937, Dr. Cator dan rombongannya menyusuri Sungai Uta lagi, berjalan kaki beberapa hari ke pedalaman, mencapai suatu dataran yang dihuni suatu klen besar dari suku Moni di selatan Danau Tigi. Tanggal 16 Desember 1937, dia mencapai tepi barat Danau Tigi; kemudian, dia mencapai Danau Paniai dan Danau Tage. Sesudah kembali lagi ke pesisir, Cator kembali lagi ke Danau-Danau Wissel 14 Mei 1938 untuk mempersiapkan pemukiman pemerintahan di Enarotali, pojok tenggara Danau Paniai. Tapi pos pemerintahan Belanda pertama di Paniai didirikan J.P.K. van Eechoud, seorang Komisaris Polisi yang kemudian menjadi Residen Nieuw Guinea Belanda. Pada tanggal 10 November 1938, pos pemerintahan Belanda pertama di Enarotali diserahkan kepada Kontrolir Dr. J.F. Stutterheim. Pada tanggal 20 Januari 1939, Dr. Stutterheim diganti Aspiran (Calon) Kontrolir Dr. J. V. de Bruyn.
Riwayat Hidup Ringkas Dr. J.V. de Bruyn (1913-1979)

Jean Victor de Bruyn lahir di Magelang, Jawa Tengah, 25 November 1913. Ayahnya seorang administrator perkebunan tebu di Magelang; sumber lain mengatakan perkebunan itu ada di Semarang. Dia seorang tamatan terbaik suatu HBS (Hogere Burger School, semacam SMA atau SMU) di Semarang; 1931, dia kuliah Indologi pada Universitas Leiden di Belanda; menyelesaikan kuliahnya pada tanggal 24 September 1935, lebih cepat dari kuliah Indologi selama lima tahun di Leiden. Keinginannya satu: bekerja pada Pemerintahan Dalam Negeri (PDN) di Hindia Belanda. Tanggal 10 Desember 1937, pada usia 24 tahun, dia meraih gelar doktor dalam bidang filsafat dan kesusastraan pada Universitas Leiden.
Sekembalinya dia ke Hindia Belanda dan menjadi seorang pegawai negeri PDN, dia ditempatkan di Maluku Selatan antara 1938 dan 1939 sebelum dia berangkat ke Danau-Danau Wissel. Mula-mula, dia menjadi seorang pegawai PDN di Saparua antara Februari 1938 dan Mei 1939. Kemudian, dia menjadi pegawai PDN lagi di Seram antara Mei 1938 dan Januari 1939. Pada tanggal 20 Januari 1939, dia berangkat ke Danau-Danau Wissel, bekerja di sana sampai dengan 26 Juli 1944, kemudian kembali ke sana sesudah PD II.
Selama PD II di Nieuw Guinea Belanda, dia menjadi seorang anggota NEFIS (the Netherlands Forces Intelligence Service). Dr. de Bruyn bergabung dengan NEFIS di Australia tahun 1942 ketika dia libur di negara ini untuk pemeriksaan kesehatannya lalu segera kembali ke Nieuw Guinea.
NEFIS didirikan pemerintah Hindia Belanda dalam pengasingan di Melbourne, Australia, sesudah kejatuhan Hindia Belanda ke tangan tentara Jepang. Tujuan lembaga intelijens ini adalah untuk memberi Tentara Sekutu intelijens terkini tentang apa yang terjadi di kawasan-kawasan Hindia Belanda, termasuk Nieuw Guinea Belanda, yang diduduki Jepang. NEFIS berkembang menjadi suatu organisasi yang rumit yang mencakup pengumpulan dan distribusi semua jenis intelijens.
Beberapa operasi NEFIS berhasil dilakukan. Pada umumnya, operasi-operasi itu cenderung melibatkan kelompok-kelompok perlawanan terhadap Jepang; hubungan kelompok-kelompok itu dengan induknya sudah terputus. Mereka lalu bergerak di belakang garis musuh, dipersenjatai cukup baik, dan bertindak sebagai pejuang gerilya.
Operasi-operasi NEFIS yang berhasil mencakup kelompok perlawanan bersenjata di Nieuw Guinea Belanda. Barangkali, untuk mengelabui tentara Jepang yang mengejar kelompok ini, dua nama sandi diberikan pada kelompok yang sama: kelompok Oaktree dan kelompok Crayfish.

Kelompok Oaktree berlokasi di Pegunungan Tengah NGB dan secara khusus dipimpin Kapten J. V. de Bruyn. Kelompok itu menjadi suatu duri di lambung tentara Jepang antara 1942 dan 1944. Dengan mengandalkan sebuah pengirim pesan radio portabel, mereka mampu mengirimkan secara rahasia kepada NEFIS di Australia intelijens yang berharga, seperti gerak maju dan kekuatan tentara Jepang di Pegunungan Tengah.
Kelompok perlawanan pimpinan de Bruyn berjumlah kecil. Mereka terdiri dari 38 orang lelaki: seorang operator radio asal Belanda, 8 anggota polisi kolonial, dan 29 orang Papua gunung. Aksi perlawanan mereka berhasil memperlambat gerak maju tentara Jepang sepanjang pesisir selatan NGB.
Tentara Jepang memburu de Bruyn dan kelompoknya. Mereka memberi tekanan pada para gerilyawan itu dengan mengirimkan satu batalyon lengkap untuk menangkap “mata-mata Belanda” itu, tapi dia tidak bisa ditemukan. Ratusan anggota tentara Jepang itu malah mati, di antaranya karena demam malaria dan kesengsaraan. Tentara Jepang juga melakukan kekejaman terhadap orang-orang Papua gunung, tindakan yang menimbulkan kebencian mereka pada “orang-orang kuning” itu dan keberpihakan yang makin kuat pada de Bruyn dan kelompok gerilyanya.
Sesudah dikalahkan Tentara Sekutu yang menyerang Hollandia April 1944 kemudian Sarmi, Biak, Sausapor, dan kawasan-kawasan pesisir NGB yang lain, tentara Jepang yang kalah menyelamatkan diri ke hutan-hutan. Mereka yang ditempatkan di Pegunungan Tengah pun melarikan diri ke pedalaman tapi dibunuh orang-orang Papua gunung yang sudah menyimpan kebencian pada mereka karena kekejamannya.
Aksi de Bruyn dan kelompok Oaktree memata-matai tentara Jepang dan melawan mereka secara bergerilya tanpa sekalipun ditangkap mengubah de Bruyn menjadi suatu legenda yang hidup. Akhirnya, dua pesawat terbang Catalina dengan kawalan sebuah pesawat pembom Mitchell mendarat di Danau Hagers (Danau Vonk) mengangkut 43 orang lelaki, termasuk orang-orang Papua gunung yang dengan setia dan berani menjadi “pengawal pribadi” de Bruyn. Jumlah itu mencakup juga anggota Oaktree dan Crayfish dari NEFIS ke Australia. Tapi de Bruyn tetap tinggal di Nieuw Guinea.
Kesuksesan de Bruyn dan kelompok perlawanan pimpinannya punya makna lain. Prestise pemerintah Belanda di antara penduduk Papua gunung tetap dipertahankan.
Di akhir PD II, Lloyd Rhys, seorang koresponden perang dan penulis biografi Dr. J. V. de Bruyn memberinya julukan Jungle Pimpernel. Sampai batas tertentu, julukan ini mengacu pada perulangan kisah heroik Scarlet Pimpernel (Pimpernel Merah) selama Revolusi Perancis (paruhan kedua abad ke-18) yang menumbangkan sistem monarki Perancis dan menggantikannya dengan sistem republik. Itu suatu julukan romantik bagi seorang bangsawan Inggris yang menyelamatkan kepala bangsawan-bangsawan Perancis dari pisau raksasa guillotine ketika timbul teror sesudah Revolusi Perancis. Pimpernel Merah selalu tidak bisa ditemukan, ditangkap, dipahami tentara Perancis. Dr. Jean Victor de Bruyn, lelaki dari danau-danau di hutan rimba Pegunungan Tengah Papua itu, tidak bisa juga ditemukan tentara Jepang; tidak seorang pun anggota tentara Jepang menyentuh dia dengan jarinya. Karena pengalamannya mengelak dari tentara Jepang terjadi di hutan rimba (jungle) Pegunungan Tengah antara 1942 dan 1944, de Bruyn dijuluki Jungle Pimpernel.

Sesudah petualangan-petualangan perlawanannya, Dr. de Bruyn harus dirawat untuk jangka waktu yang lama karena gizi yang buruk dan keletihan di suatu rumah sakit di Australia Agustus 1945. Di sini, dia dirawat Letnan Dua Geertje Botma, seorang perawat wanita asal Friesland (Belanda) berambut pirang dan bermata biru. Mereka berdua kemudian menikah di pulau Biak, Nieuw Guinea Belanda, tempat de Bruyn menjadi Kepala Pemerintahan Setempat, semacam camat.
de bruijn Dr. J. V. de Bruyn, sang Jungle Pimpernel

Atas jasa-jasanya yang luar biasa, dia diberi beberapa tanda penghargaan oleh Pemerintah Belanda. Dia dianugerahi Salib Perunggu, Salib Peringatan Perang, dan Orde dari Oranye-Nassau.
Sesudah Irian Barat diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Indonesia 1 Mei 1963, Dr. J. V. de Bruyn yang, menjelang penyerahan kedaulatan itu tinggal dan bekerja di Hollandia, pulang ke Belanda tahun 1965. Pada tahun 1978, dia menerbitkan buku kenang-kenangannya, Het Verdwenen Volk (Bangsa yang Lenyap), suatu best seller. Buku itu menunjukkan juga keprihatinannya terhadap nasib orang Papua yang bisa lenyap identitasnya di masa depan kalau pemerintah Indonesia mengabaikan hak mereka berada sebagai suatu kelompok etnik dalam kehidupan bersama sebagai suatu bangsa. Dr. Jean Victor de Bruyn, sang Jungle Pimpernel, wafat di Driebergen-Zeit, Belanda, 8 Februari 1979.
het verdwenen volk
Best seller Dr. J. V. de Bruyn

Kata pengantar J.V. de Bruyn

Dalam trilogi Jungle karya Anthony van Kampen, Dr. de Bruyn memberi kata pengantarnya, ditulis di Hollandia (kini, Jayapura) tahun 1961. Berikut isinya.
Episode “Jungle Pimpernel” yang dibaca kembali menimbulkan kenangan akan upaya mempertahankan bendera Belanda di Pegunungan Nieuw Guinea (disingkat NG) dan kehidupan bersama orang Papua primitif di bagian pulau besar itu. Episode itu berlangsung ke arah Timur Danau Wissel, tempat pos pemerintahan Belanda pertama pimpinan Dr. J.V. de Bruyn berada, yaitu di Kemandora, Dogindora, dan kawasan Roufflaer Atas.
“Jungle Pimpernel, Controleur BB” karya Anthony van Kampen bukanlah suatu “mitos” melainkan suatu sejarah padat-kental yang dialami “sekelompok kecil sukarelawan yang tinggal bersama orang Papua pegunungan yang paling primitif yang dalam perjuangan kami melawan Jepang menjadi sahabat dan sekutu kami yang paling sejati. Kelompok perlawanan kecil itu secara sukarela bersama sahabat-sahabatnya orang Papua pegunungan mengalami penderitaan karena kedinginan, kelaparan, dan dikejar oleh tentara Jepang. Dengan susah payah, kelompok perlawanan itu melewati pegunungan tinggi dan mencapai dataran rendah dan Danau Hagers 26 Juli 1944.
Kini, ketika saya menulis pengantar ini di Hollandia 1961, pencapaian danau itu terjadi tujuh belas tahun yang lalu. Danau Hagers – di ujung barat Meervlakte – tempat dua pesawat terbang Catalina dan AL Kerajaan Belanda mendarat, dengan musuh tidak jauh dari danau itu.
Perjalanan kelompok perlawanan itu dari pegunungan tinggi tadi menuju Danau Hagers berlangsung tiga bulan. Penderitaan dan ketegangan selama tiga bulan itu tampak pada wajah-wajah yang kurus dari mereka. Di hati banyak orang, naiklah doa-doa kepada Allah bahwa 26 Juli 1944 adalah akhir semua penderitaan, juga di hati 28 orang Papua gunung, yang selama waktu itu tetap setia dan bersama kami mengalami semua kesukaran itu.
Pada jam 8:30 pagi, dua pesawat terbang Catalina dari AL Kerajaan Belanda dikawal sebuah pesawat pembom Mitchell mendarat di Danau Hagers. Empat puluh lima menit kemudian, kelompok itu sudah aman di udara menuju Hollandia yang sudah dibebaskan, tempat tentara Amerika sudah mendirikan suatu pangkalan militer sangat besar. Dalam catatan hariannya, de Bruyn menulis: “26 Juli 1944 … Oaktree selesai. ‘Oaktree’, kelompok intelijens Nefis, yang dipimpin de Bruyn, berakhir. Misinya selesai.”
bruijn Jungle Pimpernel, Dr. de Bruyn, berfoto bersama kelompok perlawanannya, mencakup beberapa orang Papua gunung

Direktur Nefis di Melbourne, Australia, mengirimkan telegram (1943?): “Informasi Anda sangat bernilai. Bravo.” Dua hari sebelum Danau Wissel diduduki Jepang, warga negara Belanda lain di situ – pegawai, polisi, pekerja misi penginjilan Protestan dan Katolik – dievakuasi melalui pesawat terbang Catalina, terbang ke Merauke lalu terbang ke Hindia Belanda yang sudah bebas.
Rombongan de Bruyn mencakup Rudy Gout, radiotelegrafis; Berger, kopral KNIL; Katadini dan Kaburuan, agen polisi lapangan; Toumahu, tukang kayu; Nurwe, koki; Hongolyan, agen polisi lanskap; dan Bio, seorang lelaki mantan pembunuh tapi diberi pengampunan dan memilih mengikuti kelompok kecil itu.
Selain itu, rombongan itu mencakup orang-orang Papua gunung dari Zaman Batu, warga negara Belanda yang paling sederhana. Ada 28 orang pemuda Papua gunung sebagai “pengawal pribadi” de Bruyn. Meskipun ikut mengalami semua penderitaan dan kesengsaraan, mereka tetap bersama rombongan itu dan ikut dievakuasi. Beberapa lelaki Papua gunung yang menonjol disebut de Bruyn secara khusus. Ada Weakebo yang mengirimkan putera-puteranya bergabung dengan rombongan de Bruyn dan cangkang kerang kauri, “mata uang” suku-suku Pegunungan Tengah waktu itu. Ada juga Soalekigi yang memandang de Bruyn sebagai “adiknya” dan Kikimoayakigi, kedua-duanya pemimpin kelompok perlawanan penduduk asli melawan tentara Jepang di Kugapa. Buyani secara teratur menyampaikan berita tentang gerak-gerik tentara Jepang; Buwadituma memanah untuk pertama kali seorang anggota tentara Jepang; dan Metakipame serta Korobiya masing-masing merelakan rumahnya sebagai tempat tinggal yang lebih hangat bagi rombongan de Bruyn.
Sesudah “Oaktree” tiba dengan selamat di Australia, tentara Jepang membuat siaran radio dari Jawa 18 Agustus 1944 bahwa seluruh kisah de Bruyn dan rombongannya hanya suatu propaganda Belanda. Tidak mungkin de Bruyn menjalankan di pegunungan liar selama tahun-tahun itu, sekalipun dia punya seperangkat radio ajaib yang memampukannya tetap bertahan hidup.
Jungle Pimpernel adalah suatu kisah tidak hanya tentang de Bruyn saja tapi juga suatu sejarah manusia. Itu suatu sejarah yang dibuat bersama oleh banyak orang, yaitu oleh  apa yang disebut orang Ekari sebagai “orang-orang Surabaya” (de Bruyn dan orang asing lainnya dari Hindia Belanda) dan orang Papua.
Sesudah PD II di Enarotali, pos pemerintahan Belanda di kawasan itu yang dihancurkan tentara Jepang, didirikan kembali. Berdirilah beberapa pos pemerintahan yang baru di kawasan Danau Wissel.
Anthony van Kampen (1911-1991)

Anthony van Kampen adalah seorang penulis Belanda. Dia belajar ilmu perdagangan di Rotterdam, kemudian menjadi seorang wartawan, dan bekerja untuk suatu jangka waktu yang cukup lama pada suatu perusahaan penerbitan di Belanda. Dia seorang penulis yang gemar melakukan perjalanan.
Minat khusus van Kampen pada Nieuw Guinea Belanda. Segera sesudah PD II, dia memberi kesadaran kepada orang Belanda tentang pembangunan di NGB melalui tulisan-tulisannya. Pada waktu itu, sedikit yang diketahui di Belanda tentang Nieuw Guinea.
Dalam kaitan ini, tujuan kedatangan Anthony van Kampen ke Nederlands Nieuw Guinea adalah, seperti yang dia katakan, untuk “mengetahui apa yang terjadi di belakang hutan rimba Nieuw Guinea.” Kejadian-kejadian itu dia kirim ke koran Belanda yang mempekerjakan dia, diterbitkan untuk dibaca umum untuk menggugah pikiran dan perasaan pemerintah dan masyarakat Belanda agar tidak mengabaikan tanggung jawab pembangunannya di NG. Untuk itu, dia ingin bertemu juga dengan Dr. Jean Victor de Bruyn yang secara internasional terkenal dengan julukan Jungle Pimpernel.

Bagaimanakah cara menggugah kesadaran mereka di Belanda? Melalui “sterke verhalen”, cerita-cerita yang berdampak pada pembacanya di Belanda. Sebagai seorang wartawan profesional dan juga seorang penulis beberapa romans, dia memakai keahliannya melalui rangkaian sterke verhalen untuk mempopulerkan keadaan Nederlands Nieuw Guinea kepada pembaca di Belanda. Trilogi Jungle Pimpernel, misalnya, adalah hasil peleburan penulisan jurnalistik dan cerita romans dalam arti kisah petualangan berlandaskan fakta sejarah abad ke-20.
Untuk mewujudukan tujuan dan rencananya, van Kampen dibantu berbagai pihak untuk mengadakan perjalanannnya di Nieuw Guinea Belanda. Dia dibantu di antaranya oleh Dr. J.V. de Bruyn; Dr. J. van Baal, seorang mantan Gubernur Nieuw Guinea; dan J.P.K. van Eechoud, seorang mantan Residen (semacam Bupati) Belanda. Tanpa bantuan mereka, kata van Kampen, Nieuw Guinea tidak akan diketahui, khususnya di Belanda. Sebaliknya, di Belanda, tidak ada dukungan baginya karena “tidak ada kejadian penting di Nieuw Guinea.”
Triloginya, Jungle, adalah salah satu karyanya untuk memberi kesadaran itu. Ia adalah suatu himpunan tiga buku: Jungle Pimpernel, Controleur B.B.; Het laatste bivak; dan De verloren vallei. Ketiga bukunya berlokasi di NGB. Melalui triloginya, van Kampen mencoba membangkitkan minat yang lebih besar di Belanda pada jajahan Belanda itu. Trilogi itu memerikan dengan cara yang menyerap pikiran pembacanya cara hidup orang Papua dan kedahsyatan pesona alam Nieuw Guinea Belanda masa itu.
Dia menyebut Dr. J.V. de Bruyn sebagai “sahabat, pemandu, dan pemberi ilhamku.” Karyanya, Jungle Pimpernel, adalah bukunya yang pertama, ditulis 1948, satu tahun sesudah dia kembali dari perjalanannya yang pertama ke Nieuw Guinea Belanda. Buku itu diterbitkan setahun kemudian. Dalam buku ini, Anda akan menemukan kembali ketiga peranan de Bruyn tadi baginya. Selain itu, Jungle Pimpernel, Controleur B.B. adalah “suatu contoh yang bercahaya dari integritas dan keberanian untuk menolak kompromi,” imbuh van Kampen.
Sebenarnya, Anthony van Kampen bukanlah penulis pertama tentang Jungle Pimpernel. Yang pertama kali mempopulerkan kisah perlawanan Dr. J. V. de Bruyn dan rombongannnya di Pegunungan Tengah Nieuw Guinea terhadap tentara Jepang yang mengejar mereka antara 1942 dan 1944 adalah Lloyd Rhys, penulis biografi de Bruyn. Judul buku Rhys yang mengakibatkan de Bruyn terkenal secara internasional sebagai Jungle Pimpernel berjudul Jungle pimpernel the story of a district officer in central Netherlands New Guinea.

Buku ini kemudian diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Belanda dengan judul Aligame, vriend der Papoea’s. Het verhaal over de “Jungle Pimpernel” Dr. J. V. de Bruyn onder de Bergpapoea’s in Nieuw Guinea.” Terjemahan Indonesia: Aligame, sahabat orang Papua. Kisah “Jungle Pimpernel” Dr. J. V. de Bruyn yang tinggal di antara orang Papua gunung di Nieuw Guinea.

Lalu, Anthony van Kampen, yang mengunjungi Nieuw Guinea Belanda berkali-kali, menerbitkan trilogi yang berisi juga kisah tentang Jungle Pimpernel. Triloginya lalu diterjemahkan di antaranya ke dalam bahasa Jerman dan semua bahasa Skandinavia: Norwegia, Swedia, Denmark, Finlandia, Islandia, dan Kepulauan Faru.
Karyanya yang lain, Hart zonder haat (Hati tanpa benci), berlokasi juga di Nieuw Guinea Belanda bagian selatan. Romans ini tentang pekerjaan dan kehidupan yang berat dari seorang pegawai pamong praja pemerintah Belanda dan isterinya di suatu kawasan pedalaman terpencil, perselingkuhan isterinya dengan seorang Belanda karyawan perusahaan minyak di Sorong, dan pelayanan kemanusiaan isterinya kemudian hari di Merauke. Untuk pembangunan manusia Papua di NGB, dibutuhkan bukan hati yang membenci penduduk asli melainkan hati tanpa benci – kasih dan sikap tanpa pamrih.
hart zonder jaat
Hart zonder haat, suatu romans karya Anthony van Kampen, berlokasi juga di Nieuw Guinea Belanda

Dalam kaitan ini, van Kampen sangat terkesan dengan Nieuw Guinea Belanda. “Nieuw Guinea menawan saya, sejak hari pertama, sejak saat pertama ketika saya, bersama dengan almarhum sineas Angkatan Laut Kerajaan Belanda Frits Wassenburg, dalam sebuah pesawat terbang Catalina yang tua … mendarat di pantai utara pulau” Dom, dekat Sorong. “Pesona itu tidak sekalipun, sampai pada hari ini, berkurang. Saya sangat yakin bahwa pesona itu akan bertahan lama, sepanjang hidupku” (halaman 11).

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s