Liputan dari even “DJELADJAH DJALOER SPOOR djoeroesan Setjang-Tjandi Oemboel”, Minggu 9 Juni 2013

Standard

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/06/15416-shoping.jpg

Stasiun Magelang Passar tempo doeloe [KITLV]

Kawasan Kedu Utara merupakan dataran yang berbukit-bukit. Membentang membatasi wilayah antara Magelang dan Ambarawa. Udara sejuk turun dari Gunung Andong dan Telomoyo. Kemudian terlihat “si ular besi” melintasi rel berjalan lurus. Asap hitam membumbung pekat di antara persawahan, tegalan dan perkebunan kopi. Kadang berjalan tertatih ketika melewati jalan menanjak antara Jambu menuju Bedono ataupun anatara Gemawang ke Bedono.Itulah sang kereta api.

Itulah yang mungkin diceritakan oleh orangtua, bahkan kakek-nenek kita yang mempunyai sepenggal kisah dengan indahnya perkeretaapian yang pernah ada di Magelang. Mungkin anak muda jaman sekarang hanya bisa menikmati indahnya sepenggal cerita manis di pagi hari yang menjadi kenangan saja, karena tidak pernah merasakannya bahkan melihatnya. Ini menjadikan harapan tersendiri bagi yang tidak merasakan masa yang indah itu.

Berawal dari nilai historis ilmu, rasa kangen, misteri, dan keingintahunan inilah komunitas Kota Toea Magelang pada hari Minggu, 9 Juni 2013 turut mengajak anda semua dalam agenda kegiatan yang bertemakan Kereta Api,

DJELADJAH DJALOER SPOOR djoeroesan Setjang-Tjandi Oemboel”

       Tujuan acara ini adalah bagaimana kita bisa lebih menghargai sejarah dan melestarikan cagar budaya yang mencakup fisik dan non fisik. Karena mengingat bahwa apabila tidak adanya perkembangan bergulirnya sejarah, kita tidak akan tahu tolok ukur untuk masa depan.

Pada tahun-tahun berikutnya sesudah di bangunnya jalur kereta api antara Samarang dan Tanggung di Grobogan, maka berturut-turut di bangunlah pula jalur-jalur KA yang baru di berbagai kota di tanah Jawa. Termasuk pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Magelang dengan kota-kota sekitarnya. Misalnya jalur Magelang-Secang yang beroperasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung-Parakan beroperasi 1 Juli 1907.

Proses pembangunan jalur KA antara Ambarawa-Secang, Magelang-Secang dan Secang-Temanggung-Parakan, tentunya tidak bisa melupakan jasa seorang aannemer/pemborong bernamaHo Tjong An. Ho Tjong An terlahir di Tungkwan, Canton Cina pada tahun 1841.

Berikut ini kami kutip dari majalah SINPO terbitan tahun 1919 yang menceritakan tentang sosok Ho Tjong An tersebut:

“Begitoe pakerdjahan itu selese, toean Ho soeda borong poela pakerdjahan memboeka djalanan kreta api antara Willem I-Setjang, Magelang-Setjang dan Setjang-Parakan. Grondverzet antara Setjang-Parakan ada 143.000 M3”.

“Grondverzet jang ia mesti bikin antara Ambarawa-Setjang, toean Ho Tjong An trima boeat harga f 390.000,- kerna boekan sedikit djoerang jang mesti di potong agar tida kliwat menandjak. Koeli jang di pake setiap harinja tida koerang dari 3000 orang.

Kamoedian pakerdjahan ini ia samboeng boeat boeka tanah jang hoeboengkan antara Magelang-Setjang dan Setjang – Parakan, jang ia borong boet harga f 350.000,-.

(“Satoe aannemer kreta api Tionghoa”, majalah Sinpo tahun 1919)

Dalam tulisan tersebut di tuliskan bahwa pengerjaan jalur KA antara Ambarawa-Secang menghabiskan beaya sebesar f 390.000,- (Guilders Belanda). Dan jalur antara Magelang-Secang dan Secang-Parakan menghabiskan beaya sebesar f 350.000,- (Guilders Belanda). Jumlah yang sangat besar diwaktu itu.

Dan di tahun ini sudah lebih dari 100 tahun perkeretaapian ini ada, meski kini hanya tinggal bekas-bekas peninggalan sejarahnya saja.

Untuk menikmati acara event “DJELADJAH DJALOER SPOOR djoeroesan Setjang-Tjandi Oemboel” tempo hari, ini dia liputannya :

Perserta berfoto bersama sebelum start di Taman Badaan.

Pukul 8.15 pagi, di Taman Badakan Magelang, lengkap sudah peserta yang didominasi dari Magelang, dan sebagian berasal dari Jogja, Solo, hingga Semarang. Setelah briefing dan penjelasan rute oleh mas Bagus Priyana –  Koordinator KTM, kami yang berjumlah 37 orang bersiap mengadakan doa pemberangkatan yang dipimpin oleh Pak Budiman – yang datang dari Jogja bersama puteranya dan kebetulan merupakan peserta yang dituakan.

Berbeda dengan acara acara sebelumnya yang biasa menggunakan sepeda motor, kali ini kami mencarter angkutan umum untuk sampai di Stasiun Secang setelah sebelumnya kami menitipkan motor di Nikita Futsal, Jl. Pahlawan Magelang. Dua puluh menit kemudian kami telah sampai di Eks. Stasiun Secang.
Eks stasiun Secang

“Stasiun ini pada jamannya merupakan stasiun penting, karena merupakan pertemuan antara jalur Ambarawa – Magelang dan – Temanggung Parakan. Bekas yang menunjukkannya adalah banyaknya ruas rel yang berjumlah lima sehingga dapat dipastikan pada masanya stasiun ini besar dan ramai. Bahkan stasiun Magelang Kota pun kalah ramai” Demikian penjelasan dari Bagus Priyana sesaat setelah kami mengamati bekas stasiun yang kini digunakan sebagai markas PEPABRI Cabang Secang ini.

Peserta Djeladjah saat berkunjung di Stasiun Secang
Adalah Ho Tjong An, seorang annemeer, atau pemborong yang ditugasi oleh Pemerintah Belanda waktu itu untuk mengerjakan pembukaan jalur kereta dari Ambarawa – Secang – Magelang dan juga Secang – Temanggung – Parakan. Jalur Secang – Ambarawa sendiri mulai beroperasi pada 1 Februari 1905. Berdasarkan referensi dari Majalah Sinpo terbitan Tahun 1919 , selanjutnya menceritakan bahwa Insinyur kelahiran tahun 1841 di Tungkwan, Canton itu memborong pekerjaan dengan nilai 350.000 Gulden. Sebuah nilai yang luar biasa besar saat itu. Cukup beralasan pastinya, mengingat rel kereta harus mendaki bukit bukit dan memotong banyak jurang. Kulinya saja setiap harinya tidak kurang dari 3000 orang.
 
Kumuh, tidak terawat, dan kotor sepertinya menjadi sebuah keniscayaan disini. Namun bekas kursi ruang tunggu yang terbuat dari kayu jati lengkap dengan penyangga besinya tampak masih kokoh di lobi. Bergeser ke belakang, tampak bekas emplasement dengan lantai keramik tahu, demikian istilah yang biasa dipakai. Adalah keramik, lebih tepatnya tegel berwarna orange dengan satu pasang merupakan 4 kotak berukuran sekitar 10×10 cm persegi. Tepat dibaliknya, dapat ditemukan tulisan HOLLAND. Sebuah bukti bahwa ini adalah peninggalan Belanda. Atau malah dulunya tegel ini didatangkan langsung dari Belanda? Bicara mengenai kualitas, jangan salah, stasiun ini sekarang sering dimanfaatkan sebagai tempat parkir truk besar dan sebagaimana yang kami lihat, tegel tegel warna kuning mirip tahu ini benar benar bertahan lebih dari satu abad. Luar biasa!
Bagian Belakang Tegel “Tahu”
Masih di Stasiun Secang bagian belakang
Bekas Jembatan Kereta
Dimulai dari Eks Stasiun Secang inilah trekking dimulai. Pada kilometer awal, kami masih melintasi perkampungan padat, Krajan dan memotong Jl. Raya Secang – Temanggung. Bekas jalur ini sekarang banyak ditutup semen untuk jalan kampung. Rel rel pun masih tersisa utuh.
Rel di atas beton, lokasi di utara Pasar Secang
Rel di utara Pasar Secang
Jalur rel ke arah Ambarawa ini memotong lagi Jl. Raya Magelang – Semarang sehingga kami otomatis masuk wilayah Krincing. Tidak sampai sepuluh rumah kami lalui, sawah luas menyapa kami. Ya, kami mulai trekking yang sesungguhnya. Jalur ini rata rata merupakan gundukan buatan dengan pemadatan menggunakan batu batuan untuk menopang rel. Bekas bekas tiang sinyal juga kami temui di beberapa titik.
Peserta saat melewati jalan setapak menelusuri rel
Jembatan rel kecil yang masih tersisa
Sepanjang lebih kurang 3 kilometer jauhnya, kami harus berjibaku dengan medan yang berat. “lebih berat dari yang saya bayangkan!” kata saya dalam hati. Bagaimana tidak, di daerah Krincing hingga…. Ini, tim bahkan terpaksa harus terbagi menjadi beberapa kelompok karena perbedaan daya tahan dan kecepatan berjalan. Belum jauh kami melangkah, terdengar suara jeritan yang diikuti dengan tawa cekikikan. Rupanya, Maria Kristina – salah satu peserta harus merelakan sandalnya putus saat melintasi salah satu pematang sawah yang kondisinya licin. Tidak hanya itu, beberapa peserta juga meski rela terjatuh ataupun terpeleset namun untungnya tidak ada yang sampai fatal.
Saat melewati persawahan
Di beberapa tempat, bekas rel ini terlihat dengan jelas. “KRUPP adalah pabrik pembuat rel, NIS adalah pemesannya, yaitu maskapai perkeretaapian pada jaman Belanda, singkatan dari Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij. 1903 adalah tahun pembuatan dan 98 adalah berat rel dalam hitungan Kg per satu lonjor” demikian ujar saya kepada salah satu peserta yang tengah memotret salah satu sisi rel yang bertuliskan kode kode diatas. Ya, informasi ini saya ingat betul dari mas Tommy yang merupakan Railfans yang dulu mengikuti Djelajah Djaloer Spoor seri satu. “KRUPP sendiri adalah pabrik di Jerman” tutup saya sembari melanjutkan langkah.
Rel merk Kruup tahun 1903
Kami juga menjumpai dua buah talang air yang melintas di atas rel kereta. Talang air ini terbuat dari baja dan melihat dari warna dan struktur bangunannya, pastilah ini talang air tua.
Di bawah talang air dan sawah inilah rel kereta api itu tersembunyi
Sebelum melintasi sungai kecil yang memaksa beberapa dari kami melepas sepatu, kami sampai pada sebuah tempat dimana suasana sangat sunyi. Tidak ada bunyi bunyian selain suara hewan hewan sawah dan gemercik air. Coba saya tarik nafas panjang dan benar benar terasa damai. Disinilah tepatnya talang air satunya berada. Bangunannya menggunakan semen yang menandakan usianya belum setua talang air pertama tadi. Berdasarkan informasi dari ketua tim, kanan kiri yang merupakan bukit kecil ini dahulunya adalah satu bukit yang dikepras atau dibelah untuk jalan kereta.
Tepat di bawah pematang sawah inilah tertimbun rel kereta api itu. Dan konon tebing di kanan dan kiri rel ini dulunya adalah sebuah bukit yang karena harus di lewati rel maka bukit ini harus di kepras.
Pemandangan di sekitar situ sangatlah mempesona, lembah, persawahan terasering, dan beberapa bagian kampung serta pemandangan kota Magelang dari kejauhan nampak dari sini. “Lihat! Artos dan Atria Hotel terlihat jelas dari sini…!” terang mas Yoga kegirangan. “dari sebelah sini” seraya tangannya menunjuk dua buah gedung tinggi yang nampak dari kejauhan, sambung peserta yang selalu aktif di forum skyscrapercity bersama saya, forum yang membahas seputar perkembangan pembangunan dan proyek di Magelang.
Sejak kami memulai jalur persawahan tadi, hingga saat ini kami masih hanya melintasi sawah, dan hutan. Di beberapa lokasi, bekas jalur kereta ini sekarang benar benar tidak pernah dilewati bahkan hanya sekedar untuk mobilitas petani setempat misalnya. Semak belukar tumbuh yang tertinggi sampai ukuran perut orang dewasa. Beberapa puluh meter mendekati Sungai Elo, kami dapat rehat sejenak dan mencuci kaki di sebuah saluran irigasi. Tidak jauh dari tempat ini, rute trekking memutar jauh melewati sebuah jembatan panjang. Sekitar seratus meter dari situ, tampak bekas jembatan kereta yang terlihat masih kokoh.
Jembatan kereta api di atas Kali Elo
Di atas jembatan kereta api di atas Kali Elo
“Yang berani silakan lewat situ.. Tapi hati hati. Kalau terjadi apa apa tidak saya tanggung” teriak Bagus Priyana kepada kami rombongan yang berada di belakang. Saya dan beberapa peserta tertantang untuk melintasinya. Tapi rupanya, hanya Adi Okta, dan saya yang berani melintasi jembatan yang kini bantalan rel – yang terbuat dari kayu jati – nya habis dicuri orang. Rel yang tersisa berkode UMH 1910 NIS 98 melintang diatas jembatan nan kokoh ini. Kemungkinan rel jembatan ini pernah mengalami penggantian. Dua sayap di kiri kanan ini salah satunya menjadi tempat istirahat saya , lebih tepatnya istirahat perasaan karena saya terus terang deg degan juga saat melintasi besi yang lebarnya dari 15 hingga 30 centimter ini. “Tempat itu adalah tempat petugas kereta api dalam mengecek kondisi rel dan jembatan” jawab mas Bagus ketika saya menanyakannya. Sampai di ujung jembatan, satu peserta lagi, Edi Purnomo yang berani menaklukkan jembatan besi ini. Rupanya ini pengalaman keduanya setelah beberapa waktu lalu dia mengikuti survey lokasi bersama KTM.
Rel kereta api yang masih terlihat
Tiga setengah kilometer sudah kami berjalan. Sejenak melepas penat, cuaca diatas mulai mendung, perjalanan pun dilanjutkan. Sesaat sebelum memotong Jl. Raya Grabag, tepatnya di Kampung Brangkal kiri jalan terdapat sebuah pondasi  yang dahulunya adalah sebuah halte. Istilahnya pada saat itu adalah stoopplast, sebuah tempat pemberhentian kereta tanpa pembelian tiket. Cuaca semakin tidak bersahabat saat kami meninggalkan Stopplast Brangkal, menyeberang jalan raya dan kembali dihadapkan pada rute yang tidak mudah. Acapkali kami harus melewati genangan genangan air dan membuka jalan dikarenakan rumput yang sudah tinggi. Semarak suasana panen disepanjang persawahan yang kami temui sontak melihat kami dan memberitahu kami bahwa Candi Umbul masih jauh. Benar benar kalimat yang membuat kami semakin loyo.
Pemandangan sepanjang penjelajahan
 
 Akhirnya rintik rintik hujan jatuh juga. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mantol atau payung. Ya, memang sebelumnya sudah diinformasikan perihal perlengkapan ini untuk mengantaisipasi cuaca yang akhir akhir ini kurang bersahabat. Beberapa peserta akhirnya menggunakan banner dan daun pisang karena tidak membawa perlengkapan. Badan rasanya lemas, kaki pegal, kotor dan lengkap sudah hingga kami menjumpai sebuah jembatan dengan konstruksi beberapa rel yang dipasang berjejer selebar 2 meter. Alhamdulillah beberapa langkah darisitu tampak dau buah bangunan setengah hancur tanpa atap.  Kami telah sampai di titik finish trekking kami.
Stasiun Candi Umbul
Reruntuhan bekas Stasiun Candi Umbul
Lokasi kami berada di Desa Kertoharjo Kecamatan Grabag. Usut punya usut, stasiun ini dahulunnya sengaja dibangun untuk melayani rute wisata untuk Sinyo Noni Belanda yang hendak berwisata ke Pemandian Air Hangat Candi Umbul yang berada tidak jauh dari stasiun ini.  Sedangkan bangunan satunya yang terletak di sebelahnya adalah bekas Rumah Dinas Stasiun. Rupanya pada waktu itu pemandian peninggalan Kerajaan Hindu ini sudah menjadi obyek wisata. Setelah puas berfoto dan selonjoran, kami melanjutkan langkah menuju ke Candi Umbul yang dapat ditempuh sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.
Peserta sedang istirahat di bekas stasiun Candi Umbul
Capek capek kaki terasa rileks saat saya menyemplungkan kaki ke air hangat itu. Kolam pemandian ini terdiri dari dua kolam yang mana kolam utamanya berada lebih tinggi dan tingkat panasnya lebih tinggi juga. Konstruksi kolam menggunakan batu andesit. Beberapa relief dan candi berjejer di sekeliling kolam.
Foto bersama di eks Stasiun Candi Umbul, akhir dari penjelajahan
Pukul setengah tiga sore, kami sudah siap untuk pulang karena tiga angkot carteran yang akan mengantar kami kembali ke Magelang juga sudah menunggu kami di depan gerbang. Dan dengan demikian, berakhir pulalah trekking jalur kereta Secang – Candi Umbul ini.
Foto bersama di depan kompleks Candi Umbul
Nyemplung di pemandian Candi Umbul bersama bule.
Foto : Edi Purnomo, Kurnianto Yoga, Mameth Hidayat, KOTA TOEA MAGELANG]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s