Liputan Dari Remboeg Sedjarah “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Tahoen 1935 di Kota Magelang”

Standard

Peserta Remboeg Sedjarah sedang berpose sesaat susudah acara berlangsung Minggu 19 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti [foto Soli Saroso]

Untuk kesekian kalinya Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mengadakan kegiatan Remboeg Sedjarah. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang di mana KTM menjadi pengisi salah satu session acara di Gebyar Buku, Arsip dan Budaya. Acara pameran itu sendiri berlangsung dari tanggal 16-20 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti Jalan Sudirman Magelang.

Dalam acara Remboeg Sedjarah yang di adakan 19 Mei tersebut mengangkat tema tentang “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Kota Magelang Tahoen 1935”. Sebagaimana di ketahui bahwa Kota Magelang di jaman kolonial merupakan salah satu kota terpenting. Mulai sebagai ibukota Kabupaten tahun 1813, ibukota  Karesidenan tahun 1817 hingga Gemeente  tahun 1906 dan Stadsgemeente tahun 1929. Perkembangan kota yang sedemikian ini menjadikan pemerintah pada waktu itu harus membenahi infrastruktur kota, baik bangunan, jalan, selokan air, taman, pemukiman dan lain-lain.

Bahkan di sekitar tahun 1935-an dengan bantuan perancang kenamaan Belanda yaitu Herman Thomas Karsten di lakukan pembenahan dan pembangunan pemukiman besar-besaran . Misalnya pembangunan pemukiman Kwarasan di Cacaban, pemindahan pemakaman Singoranon ke makam kerkhoof di kaki Bukit Tidar dan di bekas pemakaman itu di bangunlah Kawasan pemukiman Gladiool.

Pembangunan jalan-jalan baik jalan protokol maupun jalan yang ada di kampung di laksanakan. Sehinga timbulah suatu keharusan untuk memberi penamaan pada jalan-jalan tersebut. Pada peta Stadskaart Magelang tahun 1923 sudah tercantum secara jelas nama-nama jalan tersebut, terutama pada jalan-jalan utama dan sekitarnya.Seperti “grooteweg noord”, “grooteweg zuid”, “bajemanweg”. “tidarweg”, “bottonweg”, Sebagaimana Grooteweg Ponjol yang berdampingan dengan jalur kereta api antara Stasiun Magelang Kota dan Stasiun Magelang passar.

Grooteweg Pontjol tempo doeloe kisaran tahun 1910-an berdampingan dengan rel kereta api

Sejak jaman kolonial Belanda, pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Berbagai jalan dibangun, perlebar dan di aspal. Kalau pada waktu itu kondisi jalan masih berupa tanah dan batu yg ditata (watu kricak). Tidak diketahui secara pasti kapan jalan-jalan itu mulai di aspal. Tapi ada sebuah data yang menyebutkan jika pada tahun 1937-1938 terjadi pengaspalan besar-besaran di berbagai jalan raya dan jalan kampung di kota Magelang.

Bahkan pada peta WEGENKAART MAGELANG tahun 1935 lebih komplit lagi menyebutkan nama-nama jalan itu. Misalnya saja Ijsfabriekslaan, Ello-Weg, dll

Nah penamaan nama2 jalan pada waktu itu lebih bersifat kelokalan [lokal wisdom]. Hal ini tentunya sangat unik. Artinya penamaan jalan biasanya yang berkaitan dengan nama kampung setempat yang dilewati jalan tersebut. Misalnya Bottonweg karena dijalan tsb ada di kampung Botton, atau bisa seperi Djoeritan Zuid karena ada di selatan Kampung Juritan. atau dengan nama Bajemanweg karena berdekatan dengan kampung Bayeman.

Bajemanweg di tahun 1910-1920-an atau Jalan Tentara Pelajar sekarang ini

Atau bisa juga karena berdasarkan tema yaitu nama pulau, misalnya di kawasan seputar RST. Misalnya ada Sumatrastraat, Celebesstraat, Borneostraat, Javastraat dll. Menurut sebuah sumber, nama jalan seperti ini di karenakan pada waktu itu Tentara KNIL yang berasal dari daerah yang sama di tempatkan pada pemukiman yang sama. Misalnya tentara KNIL yang berasal dari Jawa di tempatkan di Javastraat, tentara KNIL dari Sulawesi di tempatkan di Celebesstaat, Tentara KNIL dari Maluku di tempatkan di Molukkenstraat, demikian seterusnya.

Ada lagi penamaan jalan karena ada bangunan khusus di tempat tsb. Misalnya Residentielaan karena disitu ada kantor Karesidenan. Oranjenassau-laan karena disitu ada kawasan van Der Steur yg aslinya dari Belanda (Oranjenassau merupakan simbol Kerajaan Belanda).

Di kampung Bogeman lebih unik lagi. Penamaan nama jalan berdasarkan nama tokoh pewayangan seperti Rama, Anjani, Anoman, Subali dan Sugriwa. Bahkan pada depan jalan tersebut juga di beri tokoh wayang tersebut yang terbuat dari kulit.

Hoofwacht militair auditie atau markas pengawas militer di jaman Belanda yang ada di ,Ooster-Kampemenstlaan atau Kesatrian Wetan/Timur sekarang di kenal dengan nama Pondok Sriti [foto KITLV]

Di kawasan tangsi militer lebih unik lagi nama-nama jalannya , sebagai contoh adalah Exercitielaan [tahun 1935] = Kesatrian [tahun 1950-an] = Kesatrian [tahun 2000-an]

Western-Kampementslaan = Kesatrian Kulon = Kesatrian Barat

 Noorder-Kampementstlaan = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara

Zuider-Kampementstlaan = Kesatrian Kidul=Kesatrian Selatan

Ooster-Kampemenstlaan = Kesatrian Wetan = Kesatrian Timur

Van Heutzlaan West  =  (belum terlacak nama sekarang)

Van Heutzlaan Oost  =          –                =  Jl. Teuku Umar

Djikstraweg =          Kesatrian Lor          = Kesatrian Utara (utara Pondok Sriti)

Kroesenweg =          Kesatrian Kidul      = Kesatrian Selatan (selatan Pondok Sriti)

 Van Dalenweg  =                –                   =  Jl. Untung Suropati

 Michielsenweg  =              –                  =  Jl. Jangrono

 Generaal-Zwat  =  Ngentak Kwayuhan  =  Abimanyu

Sebuah jalan di kawasan tangsi militer dengan pemukiman untuk opsir/officierskampement

Akan tetapi ketika era orde baru muncul maka bergantilah nama-nama jalan tersebut menjadi nama-nama pahlawan nasional. Misalnya saja nama jalan Groote weg Noord menjadi jalan A Yani, Grooteweg Zuid menjadi Jalan Jendral Sudirman, Bajemanweg menjadi Jalan Tentara Pelajar, Bottonweg menjadi Jalan Pahlawan, Patjinanstraat menjadi Jalan Pemuda dll.

Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Pawirokoesoeman yang di bangun pada tahun 1900, sekarang Jalan Tarumanegara

Yang parahnya lagi adalah nama-nama lokal menjadi hilang seperti Djoeritan Zuid, Pawirokoesoeman, Sablongan, Nanggoelan, Kebon, Jenangan dan lain-lain menjadi hilang di telan bumi karena kebijakan yang salah tempat. Akibatnya yang lain adalah lokal wisdom/kearifan lokal menjadi hilang. Nama-nama kampung yang di abadikan lewat nama jalan menjadi tiada berarti lagi.

10 responses »

  1. Sebenarnya saya lebih setuju kalau nama lokal diangkat lagi, terkecuali jalan protokol, agar orang lebih mengenali daerah setempat seperti di Jogja. Magelang kenapa tidak ???

  2. tapi sepertinya nama2 lokal belum sepenuhnya hilang…
    saya masih akrab dan biasa menyebut tempat2 yang disebutkan di atas dengan nama juritan, sablongan, nanggulan, kebon ( ini tempat saya tinggal di magelang ), hehee

  3. Setuju di kembalikan nama kampung seperti awalnya,umpama Ngarakan,berarti dulu tempat bikin Arak.Dari pada nama pahlawan yang membikin kota kita seperti kuburan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s