TRAGEDI BERDARAH DI MAGELANG 25 SEPTEMBER 1945

Standard

A. Suasana Kota Magelang pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Di Magelang berita kemerdekaan ini belum terdengar. Keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945, R.P Soeroso langsung berangkat ke Jakarta untuk memastikan berita kemerdekaan iu.

Sementara itu Kekaisaran Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Pimpinan Sekutu Amerika Serikat menunjuk Inggris untuk melucuti senjata dan mengembalikan tentara Jepang ke Negara asalnya. Namun kedatangan pasukan Inggris ke Indonesian terlambat, sehingga dimanfaatkan oleh para pemuda dipergunakan sebaik-baiknya untuk memproklamirkan kemerdekaan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 (Sumarmo, 1991: 85).

Bupati Kabupaten Magelang, R.A.A. Sosrodiprodjo sebagai Kentyo baru mengetahuinya setelah pada tanggal 21 Agustus 1945 Syutyokan (Residen Kedu) R.P. Soeroso tiba di Magelang dari Jakarta.

Kemudian pada tanggal 3 September 1945 pukul 21. 00 WIB, rakyat Magelang berkumpul di lapangan Karesidenan untuk mendengarkan secara resmi berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan menyatakan Karisidenan Kedu menjadi bagian dari Republik Indonesia. Rakyat Magelang yang berkumpul itu kebanyakan anggota dari Barisan Pelopor yang diketuai oleh Mardjaban tokoh pemuda yang berpengaruh di Kota Magelang saat itu.

R.P. Soeroso diangkat menjadi Gubernur Jawa Tengah. Beliau sebelum meninggalkan Kota Magelang, terlebih dahulu mengadakan konsolidasi untuk merencanakan pengambilan alih kekuasaan sipil dari tangan Jepang. Berkat usulan para tokoh Barisan Pelopor, maka pada tanggal 10 September 1945 dilaksanakan petemuan di rumah Dr. Mardjaban di jalan Sultan Agung No. 09 (Adiwiratmoko, 1998: 6). Dalam Petemuan dihadiri oleh kepala kantor dan Jawatan pemerintah bangsa Indonesia, unsur Komite Nasional Indonesia dan beberapa tokoh pemuda. Keputusan yang diambil antara lain:

1. Semua pegawai pemerintah menyatakan setia kepada Pemerintah Republik Indonesia, dan tidak akan tunduk atas perintah para pembesar Jawatan yang terdiri dari orang-orang Jepang.

2. Membentuk beberapa sayap pemuda untuk dapat diajak bersama-sama mengatasi segala persoalan.

3. Para pemuda dalam waktu singkat telah berhasil mengambil kekuasaan kantor-kantor pemerintah kota Magelang sehingga jangan sampai jatuh ke tangan pasukan Inggris.

Magelang sebagai markas tentara Jepang tidak lepas dari aksi pengambilalihan kekuasaan. Masyarakat Magelang melakukan aksi-aksi itu secara paksa. Markas tentara yang berada di jalan Kartini dan markas polisi militer Jepang berada di jalan Tidar masih lengkap persenjataannya. Para pemuda yang menjadi anggota badan-badan perjuangan merencanakan untuk merebut senjata dari tangan Jepang . Mula-mula pelucutan senjata balatentara Jepang dan polisi bentukannya dilakukan tanpa koordinasi dan secara perseorangan (Dinas Sejarah Militer Kodam VIII/ Diponegoro, 1977: 213).

Pada tanggal 23 September 1945 para pemuda dengan dipimpin oleh tokoh-tokoh Barisan Pelopor mengadakan aksi pengambilalihan kekuasaan pemerintah sipil dengan menduduki kantor-kantor dan jawatan-jawatan pemerintah. Kemudian para wakil-wakil kepala kantor dan jawatan yang dijabat oleh orang Indonesia menduduki jabatan kepala yang pada watu itu masih diduduki oleh orang-orang Jepang, aksi berikutnya pada dinding gedung kantor dan perusahaan-perusahaan diberi tulisan “MILIK RI” (Wawancara dengan Suhendro pada tanggal 12 Agustus 2010)

B. Insiden Penyobekan Plakat Merah Putih Oleh Tentara Jepang di Hotel Nitaka

Pada tanggal 23 September 1945, malam harinya kelompok pemuda mengadakan rapat di markas Pemuda Indonesia Maluku (PIM) di jalan Poncol (sekarang jalan A.Yani, di depan gedung Guesthous Zipur). Salah satu keputusan yang dambil ialah bahwa pada malam hari itu juga para pemuda akan mengadakan penempelan Plakat Bendera Merah Putih di seluruh kota. Maka pada pagi harinya seluruh kota dimulai dari Kelurahan Kramat yang paling utara hingga Kelurahan Tidar yang paling selatan telah tertempel plakat Bendera Merah Putih (Adiwiratmoko, 1998: 7-9).

Pagi hari tanggal 24 september 1945 sekitar jam 11.00, diketahui oleh pemuda yang sedang lewat, ada seorang prajurit Jepang menyobek plakat merah putih yang ditempel pada dinding depan Hotel Nitaka. Bersamaan itu sedang Hotel Nitaka digunakan untuk menginap anggota RAPWI (Soehendro, 2008: 4).

Mengetahui hal itu, beberapa pemuda yang sedang lewat di depan Hotel Nitaka marah dan merasa tersinggung rasa kebangsaannya. Terjadilah perang mulut antara para bpemuda dan prajurit Jepang tersebut. Para pemuda menuntut agar prajurit Jepang tersebut dihukum dan bendera Jepang digantikan bendera Indonesia.

Kemudian dalam waktu singkat berdatangan para pemuda Magelang berkumpul di jalan dan halaman depan Hotel Nitaka itu. Perwakilan pemuda menuntut supaya salah seorang Tentara Jepang yang menyobek plakat merah putih dihukum setimpal. Ternyata pihak Jepang tidak dapat memberikan keputasan sesaat karena situasi yang tidak terkendali. Selanjutnya keduanya akan berunding di Markas Kempeitei di Jalan Tidar Kota Magelang.

Pemuda Magelang mulai bergerak ke arah selatan melalui jalan di depan Gedung Susteran (SMKK Pius sekarang), jalan alon-alon timur sambil mengajak penduduk yang lain untuk ikut. Dengan demikian jumlah pemuda semakin bertambah banyak hingga sampai di jalan perempatan Pasar Rejowinangun. Kemudian bergerak kearah barat menuju ke Jalan Tidar tempat di mana Markas Kempeitai (sekarang SMIP WIYASA) .

Di Markas Kempeitei sedang terjadi Perundingan antara Pak Tartib (pimpinan pejuang) dengan komando Kempeitai Kolonel Mamuro. Ternyata pembicaraan kedua belah pihak tidak menghasilkan kesepakatan. Hal ini disebabkan pihak polisi militer Jepang merasa tidak lagi mempunyai wewenang untuk menghukum Tentara Jepang itu, sedang pihak Pak Tartib mengatakan bahwa Jenderal Nakamuralah yang berwenang menangani masalah ini.

Kemudian para pemuda memaksa untuk pergi ke kediaman Jenderal Nakamura. R.P.Soeroso selaku pimpinan delegasi berunding dengan Mayor Jenderal Nakamura. Setelah perundingan selesai, seorang anggota delegasi naik ke pagar dinding halaman Gereja Ignatius untuk memberikan penjelasan dengan baik dan massapun bubaran dengan tertib dan tidak terjadi suatu insiden yang merugikan.

C. Terjadinya Insiden Berdarah di Markas Kempeitei

Tidak semua pemuda pulang setelah mendengarkan hasil perundingan antara R.P. Soeroso dengan Jenderal Nakamura. Namun sebagian para pemuda merencanakan untuk melakukan aksi atau demonstrasi ke Markas Kempeitei di Jalan Tidar. Alasan mereka salah seorang tentara Jepang itu belum jelas status hukumnya, melakukan perampasan terhadap senjata Kempeitei, dan menduduki Markas Kempeitei.

Menurut Mihardjo, para pemuda Magelang terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, para pemuda Magelang akan mengadakan demostrasi kembali untuk menuntut Jenderal Nakamura menghukum salah seorang tentara Jepang yang menyobek plakat bendera merah putih. Apabila tidak bersedia, maka para pemuda segera menyerang Markas Kempeitei dengan bambu runcing (berdasarkan wawancara dengan Mihardjo dan Suharyanto pada tanggal 20 Agustus 2010).

Suharyanto menambahkan keterangan Mihardjo, bahwa kebanyakan pemuda yang akan melakukan demonstrasi itu adalah kelompok yang mengingikan senjata Kempeitei. Ternyata di antara pemuda itu ada yang eks Heiho dan Peta, makanya mereka sangat lihai dalam memberikan komando para demonstran.

Kelompok yang kedua berasal dari pemuda yang berlatar belakang pelajar, pemuda kampung yang letaknya berdekatan dengan Lereng Bukit Tidar, dan sebagian dari golongan tua yang memiliki pengaruh kuat. Rencananya kelompok dua ini hanya mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih dan ikrar pemuda Magelang. Semua peserta upacara diharapkan membawa bambu runcing atau tombak yang berfungsi untuk membela diri apabila ada ancaman dari musuh.

Pada pagi harinya tanggal 25 September 1945 sekitar jam 04.00-05.00, ratusan pemuda berbondong-bondong mendaki Bukit Tidar untuk mengikuti upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Arti penting pengibaran bendera merah putih yang pertama di Puncak Bukit Tidar, yaitu

1. Dari segi religius, bahwa masyarakat Magelang memandang Bukit Tidar sebagai tempat yang suci dan agung. Oleh karena itu di sanalah tempat yang sebaiknya lambang kebesaran bangsa itu dikibarkan.

2. Masyarakat Magelang mempunyai anggapan bahwa Bukit Tidar adalah “Paku Pulau Jawa” (Pakuning Tanah Jawa ) atau pusatnya tanah Jawa oleh karena itu Bukit Tidar dipandang sebagai tempat yang keramat. Dengan demikian pengibaran bendera di puncaknya itu, rakyat mengharap agar perjuangan mengisi kemerdekaan itu dapat berhasil dengan selamat.

3. Bukit Tidar tempatnya memang strategis, walaupun di luar keramaian kota tetapi karena letaknya yang tinggi , maka dapat dilihat dari tempat-tempat yang jauh.

Jam 00.06 upacara pengibaran bendera dimulai dan dapat berjalan secara khidmat. Peserta yang sampai meneteskan air mata haru dan bangga. Upacara telah selesai dengan aman semua telah merasa lega. Para pemuda yang waktu itu bersenjatakan “yari” (semacam tombak, alat untuk latihan kemiliteran Seinendan) ditugaskan untuk tetap tinggal menjaga Puncak Tidar dan yang lain boleh bubar.

Beberapa menit kemudian, para peserta berbondong-bondong turun dari puncak tidar, terdengarlah suara serentetan letusan senjata api dari arah Markas Kempeitai. Ternyata ada keributan di sana antara kelompok pemuda dengan pasukan kempeitai. Kempetei mengalami ketakutan karena takut akan serbuan para pemuda yang juga sedang turun berduyun-duyun dari bukit dan berlari-lari menuju ke arah keributan sehingga menembakan senjata mesinnya. Namun mendengar tembakan itu pemuda tidak menjadi takut.

Mereka terus maju, sebagian ada yang menolong korban yang berjatuhan kemudian dibawa lari ke RSU Tidar yang kebetulan letaknya berdekatan dengan markas kempeitai itu. dan yang lain terus mengepung akan menyerbu ke markas. Pada saat yang bersamaan datanglah residen Kedu R.P.Seoroso dan Kepala Polisi Kota Inspektur Legowo, yang meminta para pemuda untuk mengurungkan niatnya menduduki Markas Kempeitei karena selain kalah dalam bidang persenjataan, juga para pemuda akan dirugikan.

Insiden di Jalan Tidar ini membawa korban 5 orang pemuda gugur, yaitu 4 orang mati seketika itu dan 1 orang setelah 2 hari dirawat di rumah sakit. nama-nama pemuda yang gugur seketika itu terdiri atas Kusni, Djajus, Sujud, dan Samad Sastrodimedjo, sedangkan Slamet 2 hari kemudian.

Setelah insiden berdarah itu, Markas Kempetei dipindahkan ke Wonosobo. Hal ini disebabkan adanya ancaman demonstran yang berjumlah besar. Kemudian ditempat Badan Kemananan Rakyat Kota Magelang.

[SUMBER : KOMPASIANA, penulis : Prija Dji. Ijin share Pak Adji Setya Sejarah]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s