Ir. Herman Thomas Karsten (1885-1945): Arsitek yang Humanis

Standard
Herman Thomas Karsten adalah tokoh yang berperan besar dalam perencanaan kota dan arsitektur di Indonesia. Ia memulai karirnya di Indonesia sebagai penasehat perencanaan di kota Semarang. Kemudian ia menjadi penasehat perencanaan kota Jakarta, Bandung, Magelang, Malang, Bogor, Madiun Cirebon, Jatinegara, Yogyakarta, Surakarta, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan dan Banjarmasin. Sebagai arsitek, karya-karyanya tersebar di berbagai kota.

Rancangan awal Karsten untuk volkstheater, dalam pelaksanaannya Gedung Sobokartti lebih kecil.

Rancangan awal gedung kesenian (volkstheater) Sobokartti. Dalam pelaksanaannya agak berbeda bentuk dan ukurannya, kemungkinan karena kendala biaya (koleksi Simon Karsten).

Salah satunya adalah Gedung Sobokartti di Jalan Dr Cipto 31-33 Semarang. Dalam rancangannya untuk gedung ini Karsten berhasil memadukan konsep pertunjukan Jawa yang biasa digelar di pendopo dengan konsep gedung teater Barat. Selain bangunan itu, karya Thomas Karsten di Semarang antara lain Pasar Johar, Kantor Asuransi Jiwasraya, Kantor PT Kereta Api Daop 4 dan rancangan permukiman Candi Baru dan Mlaten. Di Yogyakarta ia antara lain merancang Museum Sono Budoyo, sedang di Surakarta selain Pasar Gede juga beberapa bagian Pura Mangkunegaran. Dalam setiap karyanya penghawaan dan pencahayaan alam selalu diperhitungkan dengan cermat demi kenyamanan pengguna. Karsten juga diakui mampu memadukan unsur-unsur Indonesia dan Barat secara harmonis dalam rancangannya.

Yang tidak banyak diketahui orang adalah kepedulian Karsten terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang di masanya. Padahal, menurut Simon Karsten, anak laki-laki Thomas Karsten, untuk memahami karya-karya ayahnya ada dua hal yang harus difahami: kecintaan Karsten pada kebudayaan Indonesia dan kecintaannya pada istrinya.

Karsten mengakui bahwa kebudayaan Barat membawa kemajuan, tapi dalam pandangannya kebudayaan Barat sedang merosot. Kebudayan Timur, dan khususnya Indonesia, dengan spiritualisme dan ikatan sosialnya bisa menyelamatkan Barat dari kemerosotannya itu. Menurutnya, unsur-unsur terbaik Timur dan Barat bisa digabungkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi serta membawa kemajuan bagi keduanya. Karsten mempunyai visi tentang Indonesia pasca penjajahan, suatu Indonesia di mana Timur dan Barat hidup bersama dan sederajat dalam masyarakat yang harmonis.

Amsterdam dan Semarang

Karsten berasal dari keluarga terpelajar yang mapan. Ayahnya pengajar filsafat dan rektor sebuah hoogeschool. Dalam lingkungan keluarga inilah Karsten mulai mengenal gagasan-gagasan progresif. Sejak muda Karsten telah menunjukkan perhatiannya yang besar pada isu-isu sosial di Belanda. Pilihannya untuk belajar di fakultas bouwkunde di Technische Hogeschool di Delft adalah salah satu bukti tentang kesadaran sosialnya itu. Fakultas yang baru didirikan itu menjadi tempat belajar orang-orang muda yang mempunyai keinginan memperbaiki kondisi sosial masyarakat.

Setelah lulus Karsten bergabung dengan Sociaal Technische Vereeneging, kelompok profesional muda yang progresif. Pada 1904 ia terlibat dalam proyek pembangunan rumah rakyat di Amsterdam, Volkshuisvesting in de Nieuwe Stad te Amsterdam. Amsterdam ketika itu adalah satu-satunya kota industri di Belanda. Di kota itu terdapat kesenjangan sosial, ekonomi, dan etnis yang parah. Di kota ini pula berkumpul para tokoh-tokoh pemikir radikal Belanda. Diprakarsai walikota Amsterdam yang sosialis, proyek besar ini bertujuan menyediakan perumahan layak di kawasan Amsterdam Selatan. Di daerah kumuh ini tinggal buruh pendatang dan masyarakat Yahudi miskin. Proyek inilah yang membentuk pandangan-pandangan idealistis dan ideologis Karsten selanjutnya.

Atas undangan Henri Maclaine-Pont temannya semasa kuliah di Delft Karsten datang ke Semarang pada 1914. Semarang di masa itu adalah kota yang unik. Dibandingkan kota-kota lain, para pejabat di Semarang mempunyai wawasan yang lebih luas. Selain itu terdapat komunitas Tionghoa yang sangat kaya dan berpengaruh serta kelas menengah pribumi berpendidikan Barat yang aktif. Di sisi lain terdapat masyarakat Indo dan Jawa kelas bawah yang miskin. Meski menghadapi berbagai persoalan kota, kehidupan intelektual di Semarang ketika itu sangat bergairah. Suratkabar yang sangat berpengaruh di Hindia Belanda, “De Locomotief”, terbit di Semarang. Semarang di awal abad 20 itu adalah tempat subur bagi munculnya gerakan-gerakan progresif dan radikal, seperti halnya Amsterdam yang baru ditinggalkan Karsten. Di Semarang Karsten menemukan tempat yang sesuai untuk merealisasikan gagasan-gagasannya di bidang perumahan rakyat dan perencanaan kota.

Melalui perencanaan kota Karsten berupaya untuk menyatukan masyarakat kolonial, untuk memberikan kesempatan pada semua penduduk tanpa melihat latarbelakang etnis mereka menikmati lingkungan sosial dan budaya yang sama, sesuai dengan tingkat perkembangan ekonomi dan sosial masing-masing. Menurutnya dalam masyarakat Indonesia modern bukan faktor etnis tapi faktor sosial-ekonomi yang menjadi penentu. Suatu lingkungan yang terencana akan memungkinkan penduduk hidup bersama membangun suatu masyarakat multi-kultural.

Setelah kariernya yang panjang sebagai konsultan untuk berbagai kota di Indonesia ide-ide Karsten mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial di Batavia. Ia diangkat menjadi anggota komisi reformasi perkotaan (Bouwbeperkingscommisie (1930) yang pada 1934 berubah menjadi Stadsvormingscommissie). Tapi meski telah mendapatkan pengakuan pemerintah, usulan pengangkatan Karsten sebagai profesor di Technische Hoogeschool di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) ditolak. Karsten dianggap terlalu radikal dan terlalu kritis.

Ironisnya justru di kalangan nasionalis radikal Karsten dianggap terlalu kooperatif terhadap pemerintah. Visi Karsten tentang ‘asosiasi’ dan ‘fusi’ sosial, budaya, dan politik tidak mempunyai tempat dalam Indonesia Merdeka yang diperjuangkan kaum nasionalis revolusioner. Sementara menurut Karsten kemerdekaan Indonesia tidak perlu dicapai dengan revolusi, tapi dengan emansipasi rakyat melalui pendidikan.

Pangeran Mangkunegoro VII dan Soembinah

thomas-karsten5

Thomas dan Soembinah Karsten bersama tiga dari empat anak mereka.

Karsten banyak berhubungan dengan para intelektual Indonesia. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Mangkunegoro VII, penguasa Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta. Selama lebih dari tiga puluh tahun Karsten mengadakan hubungan surat menyurat dengan Mangkunegoro VII. Di antara Mangkunegoro VII dan Karsten terjalin persahabatan yang didasari rasa saling hormat. Keduanya disatukan oleh kepedulian pada kebudayaan Jawa. Karsten melihat sosok Mangkunegoro VII sebagai model priyayi Jawa modern.Gusti Nurul menarikan Srimpi Pandelori di Istana Noordeinde

Gusti Nurul menarikan Srimpi Pandelori , Januari 1937, di Istana Noordeinde, Den Haag pada perkawinan Putri Juliana dengan Pangeran Bernhard. Penyajian tari ini memanfaatkan teknologi modern (untuk masa itu) karena diiringi gamelan Kanyut Mesem di Pura Mangkunagaran yang dipancarkan melalui radio oleh Solosche Radio Vereneging (SRV) langsung ke Istana Noordeinde.

Mangkunegoro VII ketika masih bernama Raden Mas Soerio Soeparto tinggal lama di Belanda. Ia belajar bahasa di Universitas Leiden dan bertugas pada Haagsche Grenadier (pasukan elit pengawal ratu). Sebagai Mangkunegoro VII ia dan permaisurinya Ratu Timur pada Januari 1937 hadir pada pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Bernhard dan menyajikan tari Srimpi Pandelori yang dibawakan anak mereka, Gusti Raden Ajeng Siti Nurul Kusumawardhani. Tarian kraton itu adalah hadiah perkawinan sekaligus secara sangat halus menunjukkan kebanggaan Mangkunegoro VII pada kebudayaan Jawa yang tidak kalah daripada budaya Eropa.

Perkawinan Karsten pada 1921 dengan Soembinah, seorang perempuan pribumi semakin memperkuat ikatan Karsten dengan Indonesia. Pengertian pribumi disini adalah dari sudut pandang hukum kolonial. Soembinah adalah cucu Heinrich Wieland, mantan tentara Swiss yang menetap di Wonosobo dan menikah dengan seorang perempuan Jawa. Dari perkawinan itu lahir sembilan anak, salah satunya Antje yang menikah dengan Mangunredjo, lurah di Dieng. Karena perkawinan itu status Antje berubah menjadi inlander. Dengan sendirinya anak-anak hasil perkawinan antara Mangunredjo dan Antje Wieland, di antaranya Soembinah, juga berstatus pribumi. Pada masa itu sudah jarang laki-laki Belanda totok beristeri perempuan pribumi, meskipun di masa sebelumnya banyak yang mempunyai gundik atau nyai pribumi. Tapi seorangnyai tidak pernah muncul di depan umum. Sebaliknya Soembinah belajar bahasa Belanda dan aktif dalam kegiatan-kegiatan di kalangan perempuan Eropa. Ia menemani Karsten dalam perjalannya ke Eropa pada 1930. Besarnya peran Soembinah dalam kehidupannya diakui Karsten. Karsten dan Soembinah mempunyai empat orang anak, salah satunya Simon yang mengikuti jejak ayahnya menjadi arsitek. Bahasa sehari-hari yang dipakai oleh keluarga Karsten adalah bahasa Belanda dan gaya hidup mereka pada dasarnya gaya hidup Eropa, Namun, di rumah mereka terdapat seperangkat gamelan yang rutin dimainkan. Pada hari-hari penting keluarga Karsten juga mengadakan slametan seperti layaknya keluarga Jawa.

Buku Harian

Pada 1930 Karsten mulai mencatat gagasan-gagasannya dalam buku harian. Dalam keadaan sakit dalam tahanan Jepang di Cimahi ia masih mengisi buku hariannya itu. Dalam bukunya itu Karsten mencatat pemikiran-pemikiran para filsuf Eropa, perkembangan kapitalisme di Amerika Serikat, komunisme di Rusia dan fasisme di Eropa. Ia juga menuliskan pandangannya tentang agama-agama dan filsafat Timur.

Catatan terakhir Karsten ditulis pada 21 April 1945, hanya sesaat sebelum ia meninggal. Karena sudah terlalu lemah dan tidak mampu menulis, ia meminta bantuan dokternya yang juga sesama tahanan untuk mencatat kata-kata terakhirnya: “Indonesia bermoelialah, Indonesia bersatoelah ….”

Karya Herman Thomas Karsten

Herman Thomas Karsten (AmsterdamBelanda, 22 April 1884 – Cimahi, 1945) adalah arsitek dan perencana wilayah pemukiman dari Hindia Belanda. Ia adalah putra seorang profesor Filsafat dan Wakil Ketua Chancellor (“Pembantu Rektor”) di Universitas Amsterdam, sedangkan ibunya adalah seorang kelahiran Jawa Tengah.

Gelar arsitek diperolehnya dari Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Delft, Belanda, dan lulus tahun 1908. Enam tahun kemudian dia berangkat ke Hindia Belanda atas ajakan seniornya, Henri Maclaine Pont, yang memiliki Biro Arsitektur. Dalam kariernya inilah ia menjadi perencana dan penasihat beberapa proyek bangunan publik di beberapa kota yang kala itu mulai berkembang akibat membaiknya perekonomian, antara lain Batavia (Jakarta), Meester Cornelis (JatinegaraBandungBuitenzorg (Bogor),Semarang (Pasar Johar), Surakarta (Pasar Gede Harjonagoro dan stasiun Solo Balapan), MalangPurwokertoPalembangPadangMedanBanjarmasin, dan bahkan sampai merancang perumahan murah di bagian barat daya Kota Magelang, yaitu Kwarasan. Gaya khas Karsten adalah kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan. Dia tidak pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah, sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu.

Pada tahun 1921 Karsten menikah dengan Soembinah Mangunredjo dan mempunyai empat anak, masing-masing Regina (1924), Simon (1926), Joris (1928), dan Barta (1929). Dia juga bergabung dalam Instituut de Java, sebuah perkumpulan yang peduli terhadap budaya Jawa. Karsten mengkritik banyak arsitek Belanda sebelumnya yang lebih berkonsep “menaruh Eropa di Jawa”. Bagi Karsten, Jawa adalah Jawa, bukan Belanda. Karsten menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh. Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka, dua hal yang tampaknya saat ini mulai terabaikan. Akibat filosofi ini muncullah gaya arsitektur ‘Indisch’ yang populer pada masa pra-kemerdekaan.

Semenjak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB) Karsten menjadi salah satu pengajarnya. Pada tahun 1941 ia menjadi guru besar. Arsitek generasi pertama Indonesia banyak yang merupakan muridnya.

Secara politis, Karsten adalah orang pro-kemerdekaan, suatu sikap yang hanya diambil oleh sebagian kecil kalangan keturunan Eropa (Indo) pada masanya. Malangnya, ia ditangkap oleh tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942 sampai ia meninggal di Kamp Interniran Cimahi pada tahun 1945. Cita-citanya untuk meninggal di bumi Indonesia tercapai walau harus dalam situasi yang tragis.

Beberapa karya Thomas Karsten di Indonesia

Bandung
Banjarmasin
Bogor
Cirebon
Jakarta (termasuk Jatinegara/Meester Cornelis)
  • Lapangan Monas (1937)
Madiun
Magelang
Wilayah Kwarasan Kota Magelang
Pemukiman Kwarasan di Kampung Cacaban Kota Magelang
  • Menara Air Minum
Menara Air di Aloon Aloon Kota Magelang
Menara Air Minum di Aloon Aloon Kota Magelang
Malang
  • Kawasan Jalan Ijen
Kawasan Jalan Ijen Malang
Kawasan Jalan Ijen Malang

Padang
Balai Kota Padang karya Ir. Thomas Karsten

Balai kota Padang Karya Thomas Karsten
Balai kota Padang Karya Thomas Karsten
Palembang
  • Pasar Lingkis Cinde Palembang
pasar lingkis cinde Palembang
pasar lingkis cinde Palembang
Purwokerto
Pasar Johar, Semarang (1933)
Suasana Pasar Johar dari dalam sekitar tahun 1943
Suasana Pasar Johar dari dalam sekitar tahun 1943
Pasar Johar tahun 2000 an
Pasar Johar tahun 2000 an
Semarang
  • Pasar Bulu
  • Penataan kota daerah Candi (1916), Pekunden, Peterongan, Sompok, Semarang Timur (1919), Kampung Senjoyo, Progo, Mlatiharjo
Situasi Jalan Pahlawan Semarang tahun 1950
Situasi Jalan Pahlawan Semarang tahun 1950
  • Pasar Jatingaleh (1930)
  • Zustermaatschappijen de Semarang (sekarang Kantor PT KAI Daop IV)
joana stroomtram maatschappij (sekarang kantor Kadaop IV PT KAI) Semarang
joana stroomtram maatschappij (sekarang kantor Kadaop IV PT KAI) Semarang
  • Djakarta LLyod Stoomvart Nederland (Kantor PT (Persero) Djakarta Lloyd)
Gedung Jakarta Lloyd Jl. Mpu Tantular Semarang
Gedung Jakarta Lloyd Jl. Mpu Tantular Semarang
  • Rumah Sakit Elizabeth)
RS Elizabeth - Kota Semarang
RS Elizabeth – Kota Semarang
  • Taman Diponegoro.
Taman Diponegoro Candi Baru tahun 1930
Taman Diponegoro Candi Baru tahun 1930
Taman Diponegoro Semarang tahun 2012
Taman Diponegoro Semarang tahun 2012
Keasrian Taman Diponegoro Semarang tahun 2012
Keasrian Taman Diponegoro Semarang tahun 2012
Surakarta
  • Pasar Gede atau Pasar Hardjanagara dibangun pada tahun 1929, dan diresmikan pada tanggal 12 Januari 1930 pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Dahulunya pasar ini bernama Pasar Candi karena di dekat pasar terdapat candi. Pasar ini adalah pasar satu-satunya di Indonesia yang berlantai dua yang menghabiskan dana 300 gulden.
Pasar Gede Solo tahun 1990 an
Pasar Gede Solo tahun 1990 an
  • Eks. Kantor DPU, yang berupa pavilion dua lantai. Terletak di Jalan Urip Sumoharjo di sebelah barat Pasar Gede.
  • Pendhapa dan Gapuro Mangkunegaran. Pada pembangunan pendhapa terdapat pencampuran arsistektur Barat dan Timur yang terlihat dari penambahan emper pendhapa dari besi yang berasal dari Belanda dan adanya kanopi yang berhias dekorasi motif-motif flora dari timur.
Vooraanzicht van de kraton Mangkunegaran in Soerakarta
Vooraanzicht van de kraton Mangkunegaran in Soerakarta
Mangkunegaran Surakarta sekarang
Mangkunegaran Surakarta sekarang
  • Pavilium Gusti Nurul-Pracimayasa, dibangun pada tahun 1923 pada masa pemerintahan Mangkunegaran VII.
  • Masjid Al Wustha di Mangkunegaran. Terletak di luar komplek Pura Mangkunegaran, dan dibangun pada masa pemerintahan Mangkunegaran VII. Keberadaannya sangat menonjol karena bentuk pagarnya yang khas.
Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo
Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo
  • Eks. Rumah Dinas Residen Surakarta. Bangunan ini merupakan bangunan satu-satunya dalam obyek jelajah, yang belum diketahui dasar referensinya yang menyatakan siapa arsisteknya. Namun bangunan ini terletak di bagian barat lingkungan Villapark atau taman yang berdasarkan referensinya Villapark (lingkungan Monumen 45 Banjarsari) dibangun pada saat Karsten menjadi konsultan perencanaan Kota Surakarta.
  • Villapark Banjarsari. Dibangun pada saat Thomas Karsten menjadi konsultan perencanaan Kota Surakarta. Lingkungan ini belum diketahui tahun berdirinya. Tepatnya berlokasi di sebelah utara Pasar Legi yang kini sudah banyak mengalami perubahan.
  • Stasiun Kereta Api Solo-Balapan. Bangunan ini belum diketahui kapan berdirinya, tapi diperkirakan pada masa pemerintahan Mangkunegaran VII. Terletak di Jl. Wolter Mongisidi No. 3.
Stasiun Kerata Api Balapan Solo
Stasiun Kerata Api Balapan Solo
Bangunan dalam Stasiun Kereta Api Balapan Solo
Bangunan dalam Stasiun Kereta Api Balapan Solo
  • Lapangan Manahan. Dibangun pada saat Thomas Karsten menjadi penasehat atau konsultan perencanaan Kota Surakarta.
Yogyakarta
  • Museum Sonobudoyo (1933)
Museum Sonobudoyo Yogyakarta
Museum Sonobudoyo Yogyakarta
[sumber : http://sejarahsemarang.wordpress.com%5D

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s