Sejarah Magelang: Daftar Nama Residen Kedu di Jaman Kolonial

Standard

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Schoolkinderen_voor_het_residentiehuis_in_Magelang_tijdens_een_bezoek_van_Gouverneur-Generaal_BC_de_Jonge_TMnr_600374.jpg

Karesidenan Kedu tempat Residen Kedu tinggal,sekarang menjadi rumah dinas KepalaBakorwil IIKedu-Surakarta di Magelang.

[foto : COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Schoolkinderen_voor_het_residentiehuis_in_Magelang_tijdens_een_bezoek_van_Gouverneur-Generaal_BC_de_Jonge_TMnr_600374.jpg]

Situasi di Eropa membawa perubahan pemerintahan di Belanda. Pada tahun 1795 tentara Perancis menyerbu Belanda sehingga pangeran Willem V melarikan diri ke Inggris. Kerajaan Belanda (Holand) selanjutnya dipimpin oleh Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis. Louis Napoleon kemudian mengangkat Gubernur Jenderal untuk memerintah daerah kononial Hindia Belanda bernama Herman Willem Daendels. a. Masa pemerintahan H.W. Daendels di Indonesia (1808-1811)
Pada masa Daendels berkuasa, Prancis bermusuhan dengan Inggris dalam perang koalisi di Eropa. Maka tugas utama Dandels di Hindia Belanda adalah mempertahankan pulau Jawa dari serangan pasukan InggrisUntuk melaksanakan tugas tersebut langkah-langkah yang ditempuh H.W. Dandels adalah sebagai berikut:
1. Bidang Pertahanan
– Menambah jumlah prajurit menjadi 18.000 yang sebagian besar dari suku-suku bangsa di Indonesia (pribumi)
– Membangun benteng di beberapa kota dan pusat pertahananya di Kalijati Bandung
– Membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan kurang lebih 1.000 kilometer yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun dengan kerja paksa/rodi di setiap 7 kilometer dibangun pos jaga.

– Membangun armada laut dan pelabuhan armada dengan pusat di Surabaya

2. Bidang Keuangan antara lain:
– Mengeluarkan mata uang kertas
– Menjual tanah produktif milik rakyat kepada swasta sehingga muncul tanah swasta (partikelir) yang banyak dimiliki orang Cina, Arab, Belanda.
– Meningkatkan pemasukan uang dengan cara-cara sebelumnya (VOC) yaitu memborongkan pungutan pajak. Contingenten, Penanaman Kopi dll.

3. Bidang Pemerintahan :
– Membentuk sekretariat negara untuk membereskan administrasi negara
– Kedudukan Bupati sebagai penguasa tradisional diubah menjadi pegawai pemerintahan dan digaji.
– Memindahkan pusat pemerintahan dari Sunda Kelapa ke Welterreden (sekarang gedung Mahkamah Agung di Jakarta)
– Pulau Jawa dibagi menjadi 9 perfektuur/wilayah Karesidenan
– Membangun kantor-kantor pengadilan

Sisi negatif pemerintahan Daendels adalah membiarkan terus praktek perbudakan serta hubungan dengan raja-raja di Jawa yang buruk, sehingga menimbulkan perlawanan. Pada tahun 1811 Daendels ditarik ke Eropa digantikan oleh Gubernur Jendral Jansen yang semula bertugas di Tanjung Harapan (Afrika Selatan)

Tidak lama setelah Jansen memerintah, Inggris melakukan serangan atas wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda.

Pada saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808, beliau melakukan tindakan dalam bidang pemerintahan diantaranya adalah membagi Pulau Jawa menjadi 9 perfektuur/Karesidenan. Karesidenan di pimpin oleh seorang Residen. Sedangkan untuk wilayah Kedu baru memiliki Residen pada tahun 1823. Di bawah ini nama-nama pejabat yang pernah menjadi Residen Kedu, sbb :

1. P. Ce Clereg 1823 [tahun mulai menjabat]

2. F. G. Valck 1827

3. D. F. Schaaf 1855

4. G. M. van de Graaff 1858

5. A. MT. Baron de Salis 1874

6. J. Heijting 8 Mei 1878

7. K. F. Bohl 31 Oktober 1882

8. J. A. Ament 5 Maret 1889

9. P. M. L. De Bruyn Prince 24 Juli 1896

10. J. H. F. Ter Meulen 10 Oktober 1901

11. P. Wijers 5 Maret 1906

12. J. J. Verwyk 12 Februari 1912

13. H. van Santwijk 15 Februari 1917

14. M. B. van Der Jagt 17 Juni 1922

15. J. D. De Vries 10 Mei 1927

16. J. van Pelt 5 Juli 1929

17. A. A. C. Linck 28 Juli 1933

18. H. J. Sonneveldt 16 Februari 1938

[sumber : Sang Ratu Adil, Kroniek Kehidupan dan Perjuangan Pangeran Dipanegara 1785-1855, jurusan Sejarah FIB UGM & BAKORWIL II PROP. JATENG dan dari berbagai sumber]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

One response »

  1. 11. P. Wijers 5 Maret 1906
    12. J. J. Verwyk 12 Februari 1912
    13. H. van Santwijk 15 Februari 1917
    14. M. B. van Der Jagt 17 Juni 1922
    15. J. D. De Vries 10 Mei 1927
    16. J. van Pelt 5 Juli 1929
    17. A. A. C. Linck 28 Juli 1933
    18. H. J. Sonneveldt 16 Februari 1938

    Ada yang tau tidak ? Pada masa itu nama demang” di kabupaten magelang siapa ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s