Sejarah Perbioskopan di Kota Magelang : Gambar Hidoep Jang Soedah Redoep

Standard

Kota Magelang sebagai tempat hunian yang nyaman, memiliki fasilitas hiburan bermacam-macam. Salah satunya adalah bioskop. Dari jaman Belanda, Jepang, kemerdekaan hingga sekarang, keberadaan bioskop jatuh bangun menghiasi berbagai sudut kota. Jaman golden era, atau era abad 20 silam, ternyata banyak bioskop yang berdiri di Kota Magelang. Bioskop tersebut adalah: Bioskop Al Hambra (di Jordaanlaan, sebelah utara bank BNI di Panti Peri sekarang), Bioskop Roxy yang berubah nama menjadi Abadi di timur Aloon-aloon, kemudian berubah lagi menjadi Rahayu (sekarang: Gardena Dept. Store), Bioskop Kresna, Bioskop Bayeman, Bioskop Kartika (sekarang: Aula Kodim), Bioskop Mutiara (sekarang: SMA 3), Rejowinangun Theatre (sekarang: Gereja Alfa Omega), Bioskop Globe yang berubah nama menjadi Ampera dan kemudian berubah lagi menjadi Bhima (sekarang: bank CIMB Niaga), Bioskop Magelang Theatre dan Tidar Theatre. Sedemikian panjangnya cerita sejarah ini, membuat tidak banyak orang yang mengetahui tentang bioskop klasik tersebut, terlebih anak muda jaman sekarang.

Sangat miris mendengar bahwa pada saat ini bioskop yang tersisa hanya ada satu, yaitu Magelang Theatre juga sudah tutup menyusul saudara kembarnya Tidar Theatre yang per 1 Juli 2011 yang lalu sudah tidak beroperasi lagi. Sangat memprihatinkan apabila sarana hiburan masyarakat tersisihkan oleh masyarakat itu sendiri. Ini tidak lepas dari faktor eksternal juga, salah satunya adalah perkembangan teknologi yang semakin maju seiring perkembangan jaman.

Setiap individu memiliki kesan, cerita dan kisah tersendiri dengan hiburan rakyat ini. Dari masa ke masa pasti ada saja peristiwa yang terjadi, sehingga menjadi memori yang tak terlupakan. Untuk itu, berikut adalah sejarah perkembangan dari hiburan rakyat: Bioskop di Magelang.

Bioskop Al Hambra Di Jordanlaan, Sekarang Jl. Pahlawan, sebelah Utara Bank BNI 46

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2124946249157&set=o.128356500529153&type=3

Di jaman Belanda, Bioskop AL Hambra menjadi tempat terfavorit bagi sinyo dan noni Belanda untuk mencari hiburan. Letak bioskop ini ada di Jordanlaan (sekarang Jl.Pahlawan timur SMK Kristen/ utara Bank BNI 46). Gedung ini dibangun pada tahun 1920an ini oleh Sie Wie Tjioe,  yang pada saat itu hanya memutar film-film barat. Misal saja  film “ Jimmy and Sally “ yang diputar dari tanggal 31 Juli – 1 Agustus 1935.

Di jaman Jepang , bioskop AL Hambra tidak diperbolehkan memutar film barat dan hanya diperbolehkan mempertunjukkan sandiwara tonil. Pada masa Agresi Militer Belanda antara tahun 1947 – 1949, gedung ini dihancurkan. Di tahun 1970’an masyarakat sekitar menyebutnya dengan “ Gedung Bobrok “

Bioskop Roxy

Di masa Belanda juga ada bioskop Roxy (foto : tahun 1935) yang terletak di Alon-alon Timur. Pada masa setelah kemerdekaan berubah nama menjadi bioskop Abadi, dan berubah lagi menjadi bioskop Rahayu. Serta sekarang menjadi Gardena Dept.Store.

Pada masa sesudah kemerdekaan tepatnya di tahun 1955 berdirilah Bioskop Kresna dibekas Apotik Van Gorkom di Chinnese Kamp Street / Pecinan / Jl. Pemuda sekarang. Nah, pemilik Bioskop Kresna ini bernama Liem Ting Lok atau biasa dipanggil Bah Ting Lok. Rumahnya di belakang Bioskop Kresna atau di Jalan Sigaluh No.2 Kawatan. Bah Ting Liok yang juga mengelola Bioskop Bhima / dulu Globe di jalan Tidar dan Bioskop Arjuna di Muntilan.

iklan film bioskop Roxy

Bioskop Kresna Di Pecinan  

Nah, pada era tahun 60-80 an merupakan puncak kejayaan perbioskopan di Magelang. Banyak bioskop baru bermunculan, seperti Kartika Theater (sekarang Aula KODIM), Mutiara Theater (sekarang Aula SMA 3 Magelang), Rejowinangun Theater (sekarang Gereja Alfa Omega Tugu Wolu) dan Globe Theater di Jalan Tidar. Di masa jayanya Globe Theater pernah di kunjungi oleh Bung Karno diakhir tahun 1950an. Perkembangan jaman Globe Theater berubah nama menjadi Bioskop Ampera (berubah karena himbauan Bung Karno untuk memakai nama Indonesia). Lalu berubah lagi menjadi Bioskop Bhima sebelum akhirnya dibongkar (sekarang Bank Niaga Shooping).

Di masa tahun 60’an cara mempromosikan film yang akan diputar sangatlah unik yaitu dengan memakai sarang gerobak yang didorong. Sedangkan poster film yang akan diputar ditempelkan disamping kanan kiri gerobak itu. Nah, biar menarik didalam gerobak ada orang yang menabuh genderang berulang-ulang untuk menarik perhatian orang disepanjang jalan yang dilewati. Unik ya………………

info lanjutan dan refrensi:

http://www.merdeka.com/peristiwa/bioskop-kresna-tempat-taruna-akabri-habiskan-pesiar.html

Sejarah Magelang Theatre Dan Tidar Theatre

Nah, di era akhir 70’an dijaman Walikota Moch. Soebroto beroperasilah Bioskop Magelang Theater dan Tidar Theater. Kedua bioskop ini memakai eks gedung olah raga (GOR) yang dipindah di Sanden. Nah, eks GOR yang ditempati oleh kedua bioskop ini dulunya adalah eks Hotel LOZE (dibangun tahun 1840 oleh Th ID LOZE dan menjadi hotel ternama dengan fasilitas kolam renang). Sebelum menjadi GOR, tempat ini merupakan THR (Taman Hiburan Rakyat). Di dalam THR inilah tersedia bioskop misbar (gerimis bubar). Nah, THR yang di Magelang ini oleh Pemkot dibangun untuk meniru THR Surabaya.

Bahkan keberadaan THR di Magelang menjadi tempat hiburan istimewa karena berbagai grup musik atau grup kesenian tradisional pernah pentas disini. Sebut saja grup musik perempuan Dara Puspita, ataupun semacam grup ketoprak keliling / tobong Siswo Budaya, Gema Mataram, Ludruk Tuty Bintang Timur, Wayang Wong Tjipta Kawedar, Ngesti Pandhowo, Panca Murti dan Edhy Budhaya.

 

Foto: kolam renang di Hotel Loze

Kejayaan Bioskop MT dan TT terjadi antara tahun 80-90’an dimana setiap kali pemutaran film, berjubel masyarakat menyempatkan untuk menonton. Meski di saat itu juga ada Bioskop Rahayu, Kresna dan Bayeman. Apalagi jika di setiap hari Sabtu, Minggu dan hari libur dipastikan kursi penonton akan penuh sesak. Di musim lebaran, film-film semacam Trio Warkop Dono Kasino Indro, dan film silat semacam Brama Kumbara, Saur Sepuh, Mahkota Mayangkara, Tutur Tinular dll, akan dipenuhi penonton.

Foto: Hotel Loze (sekarang:Pelataran Magelang Theatre)

Foto: Hotel Loze (Sekarang: Matahari Dept Store)

dan realita mengatakan: 

Waktu yang terus berjalan ternyata mengubah nasib bioskop-bioskop ini. Merebaknya televisi swasta dan peredaran video di tahun 1990’an membuat bioskop-bioskop ini satu per satu gulung layar. Bioskop Rahayu, Bayeman, Kresna sudah mengakhiri masa hidupnya. Bioskop Rahayu menjadi Gardena Dept.Store, Bayeman dibongkar demikian pula dengan Kresna hanya tinggal puing-puing sisa bangunan. Bioskop-bioskop ini meninggalkan sejuta cerita yang tak kan terlupa oleh orang-orang yang pernah menikmati kejayaannya.

[Bagus Priyana-KOTA TOEA MAGELANG]

4 responses »

  1. “Merebaknya televisi swasta dan peredaran video di tahun 1990’an membuat bioskop-bioskop ini satu per satu gulung layar ”
    Agaknya alasan ini kurang tepat mengingat sekarang juga semakin banyak televisi swasta dan banyaknya dvd/vcd player namun mengapa bioskop2 saat ini toh tetap ramai…?

    Alasan utama yang saya ketahui adalah pada era 80-90an, film yang masuk ke Indonesia (impor) dikendalikan sedemikian rupa sehingga harus melalui satu distributor utama film. Siapapun yang memagang kendali perfilman akan memiliki hak penuh dalam pendistribusian fil tersebut ke seluruh bioskop di Indonesia. Hal ini lah yang dimanfaatkan ‘pihak2 yang berkuasa’ dan membuka bioskop baru yang hingga kini bertahan dan satu2nya yang berkembang di Indonesia. Saya rasa semua sudah tahu.

    Mereka mengatur agar film2 baru, yang masuk ke Indonesia tidak boleh beredar di bioskop lain dalam jangka waktu tertentu…Dan hanya bioskop milik mereka saja yang boleh menyiarkannya. Bioskop2 lain mendapat hak siar setelah film2 tersebut tidak sudah basi. Maka nya lama-lama bioskop2 mulai kerepotn mencari film bermutu. Di tambah film2 buatan dalam negeri tidak ada yang menarik.

    Kesimpulan, monopoli pada suatu produk dan distribusi barang akan menghambat dan menghancurkan bisnis orang lain, dan akan menguasai produk tersebut hingga saat ini. Jika ada yang salah, silakan di ralat..🙂

    Kunjungi : http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000005485342/960496089600960496089600-masuk-gankursi-rotan-lesehan-buat-ngenetblajardll-termurah-sekaskus960096089604960096089604

    • pendapat anda juga benar mas, akan tetapi redupnya perbioskopan juga di sebabkan oleh alasan lain yaitu oleh munculnya televisi swasta. Bisa kita lihat bahwa televisi swasta juga sering memutar film2 barat yang mana membuat kunjungan penonton ke bioskop menjadi menurun. Pendapat saya juga berdasarkan penuturan dari pengelola sebuah bioskop di magelang.

  2. Seingat saya disekitar THR dulu ada kompleks perumahan polisi, apakah hotel LOZE yang dimaksud?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s