Sejarah Magelang : Kerkhoof, Makam untuk Orang-orang Belanda

Standard

Image

Kota Magelang merupakan wilayah yang unik, nyaman untuk di tinggali dan menarik karena penuh dengan pesona pemandangan. Hal ini sudah terjadi sejak dulu kala, lebih-lebih di jaman kolonial Belanda. Baik warga Pribumi maupun kaum pendatang seperti Belanda, Cina ataupun Arab merasa nyaman hidup di kota ini. Menyadari hal demikian pemerintah kota saat itu berupaya memenuhi pelayanan bagi masyarakat umum. Apalagi sejak Magelang menjadi Gemeente di tahun 1906 dan Stadsgemeente di tahun 1929 pemerintah kota berupaya meningkatkan pelayanannya teutama penyediaan area pemakaman untuk warganya.

.

PEMAKAMAN BELANDA

Pada waktu itu area pemakaman untuk masing-masing etnis berbeda-beda

tempatnya. Untuk masyarakat Belanda sebagai area pemakaman ada di selatan Kampung Kejuron [kini Kampung Kerkopan] dan di Kampung Barakan di lereng Bukit Tidar.

Area pemakaman ini di sebut dengan EUROPEESCHE BEGRAAFPLAATS atau biasa di sebut dengan KERKHOOF atau lidah kita menyebutnya dengan nama “kerkop”.Di kawasan selatan Kampung Kejuron sendiri belum di ketahui secara pasti kapan area pemakaman ini mulai ada.Yang pasti pada peta Kota Magelang Stadskaart tahun 1923 kawasan pemakaman ini sudah ada. Area pemakaman ini membentang mulai depan penjara sampai ke barat berbatasan dengan di Residentielaan/Jalan Diponegoro sekarang ini,. Terus menuju ke selatan sampai Kampung Jambon Legok hingga ke timur membentuk area segi empat.

Akan tetapi pada perkembangan jaman dan dengan alasan penataan kota yaitu area pemakaman di sini oleh pemerintah kota praja di pindahkan ke kawasan Kampung Barakan. Peristiwa pemindahan ini terjadi pada tahun 1938-1941. Nah bekas area pemakaman ini lambat laun kini menjadi sebuah pemukiman penduduk yang bernama kampung Kerkopan.

Area pemakaman di Kampung Barakan sendiri menjadi tempat pemakaman Eropa yang di kelola oleh pemerintah kotapraja saat itu. Kawasan pemakaman ini terletak di Grooteweg Zuid/Jalan Jenderal Sudirman sekarang ini, tepatnya di lereng kaki Bukit Tidar sisi utara.Tempat pemakaman ini di bagi menjadi 2 bagian yaitu bagian Utama I dan II di mana masing-masing bagian di bagi lagi menjadi 4 kelas.Untuk bagian utama I peruntukkan bagi masyarakat Eropa, sedangkan untuk bagian utama II bagi pemakaman masyarakat pribumi dan  timur asing yang beragama Kristen.Tentu saja area pemakaman untuk bagian Utama I ada di area depan yang mudah di akses oleh masyarakat. sedangkan untuk kelas terendah ada di lokasi yang jauh dari akses jalan.

Yang unik adalah pemerintah kotapraja setempat juga mengenakan beaya bagi penggunaaan fasilitas bagi pemakaman.Misalnya jika memakamkan menggunakan kereta yang di ntarik oleh 6 kuda maka tarifnya sebesar f 50 gulden. Jika dengan 2 kuda maka tarifnya f 5 gulden. Termasuk penyediaan peti mati juga dikenakan tarif f 100 gulden jika menggunakan jenis pertama dan f 20 gulden jika untuk jenis keempat.

Untuk lokasi pemakaman bagi warga pribumi dan timur asing yang beragama Kristen lokasinya ada di sisi belakang. Akan tetapi dapat juga di makamkan di area bagian Utama I jika mampu membayar tarif seperti yang di kenakan untuk orang-orang Eropa.

Pada tahun 1945 seorang tokoh besar di masanya dan legendaris hingga kini bernama Johannes van der Steur di makamkan di sini. Lokasi makamnya ada di dekat pintu masuk gerbang Kerkhoof yang bisa di sebut sebagai makam Utama I karena begitu strategisnya. Dan makam dari Johannes van der Steur bersama dengan anak-anak asuhnya sampai kini tetap ada di belakang ruko-ruko di Jalan Ikhlas.

Pada tahun 1980an oleh pemerintah kota saat itu area pemakaman Kerkhoof di pindahkan ke berbagai tempat, seperti ke Giriloyo. Karena di area itu banyak makam-makam Belanda maka pada waktu itu pemerintah kota Magelang membuka iklan di surat kabar di negeri Belanda untuk mengabarkan pada ahli waris tentang rencana pembongkaran ini. Sejumlah dana di keluarkan untuk kegiatan ini. Jenasah orang Belanda ada juga yang di bawa dan di makamkan kembali di negeri Belanda oleh ahli warisnya.

Image

Gerbang Kerkhoof yang di bangun tahun 1906 [foto : www.flickr.com ]

Kawasan ini akhirnya di jadikan area pemukiman penduduk dan kios-kios. Dan akhirnya untuk mengenang peristiwa ini kawasan jalan yang melintas di sebut dengan Jalan Ikhlas yang merujuk pada keikhlasan karena banyak makam yang di pindah.Yang tersisa dari area pemakaman ini selain kompleks makam van der Steur adalah gerbang pintu masuk ke makam, masyarakat menyebutnya dengan nama Gerbang Kerkop. Gerbang Kerkop ini di bangun pada tahun 1906 dengan gaya arsitektur Empire style dengan pilar/kolom tinggi menjulang. Yang unik pada bagian dinding atas/fasadnya terukir nama berbahasa latin yaitu “MEMENTO MORI” yang artinya ingatlah selalu pada kematian.Tapi sayangnya tulisan ini sudah hilang.

5 responses »

  1. kalo yang ini namanya makam kerkoof, trus yang di muntilan sepertinya juga ada kerkoof, yamg dket SMA van Lith. namun itu hanya dikhususkan untuk pastur atau bruder Katolik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s