STUDIO FOTO DI ERA TAHUN 1930-AN DI KOTA MAGELANG

Standard

Masyarakat berkerumun di depan Studio foto LIE JAUW MING di Groote Weg Noord  Pontjol 49 Magelang [foto: koleksi pribadi/KTM]

       Fotografi memang bagaikan sebuah keajaiban yang di buat oleh manusia. Dengan fotografi manusia secara instant dapat mengabadikan dari sesuatu yang di lihatnya. Tidak dapat kita bayangkan jika dunia tanpa adanya fotografi, tentunya kita tidak dapat merekam sesuatu di masa lalu. Perkembangan fotografi saat ini luar biasa sekali. Dari yang semula berupa peralatan sederhana dan membutuhkan waktu yang lama dalam memotret, tapi sekarang dengan era digitalisasi segalanya dapat disesuaikan dengan selera kita.

       William Henry Fox Talbot pada kisaran tahun 1841 berhasil mematenkan temuannya berupa negative film yang dimana proses pencetakkan foto ini yang pernah kita kenal selama ini.

       Lalu bagaimana ya dunia potret memotret ke Indonesia? Setelah fotografi populer di Eropa, ternya tidak lama kemudian merambah ke Indonesia. Orang-orang Eropa dengan berbagai macam tujuan membawa serta kamera Daguerrotype ke tanah air. Hal ini terjadi pada tahun 1841an. Pendatang Eropa mendominasi penguasaan alat fotografi ke Indonesia, lalu di ikuti oleh pendatang dari negeri Cina dan Jepang.

       Pada jaman kejayaanya tercatat ada 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil. Terdapat 315 nama Eropa, 186 nama Cina, 45 nama Jepang dan hanya terdapat 4 nama Indonesia. Yaitu Chepas di Jogja, A. Mohamad di Batavia, Sarto di Semarang dan Najoan di Ambon.

       Sampai kini Kassian Chepas di nilai sebagai pemotret pertama Indonesia. Chepas mempunya studio foto di Loji Kecil (sekarang jalan Mayor Suryotomo). Chepas adalah pemotret resmi Kraton Jogjakarta. Selain memotret kerabat Kraton, Chepas juga memotret Candi Borobudur di Magelang.

       Data di atas hanya di lakukan thd studio foto atau para pemotret yang menggunakan fotografi sebagai mata pencaharian saja. Menurut catatan Karen Strassler pada tahun 1924 di Bandung telah berdiri perkumpulan penggemar fotografi yang bernama PREANGER AMATEUR FOTOGRAFER VERENIGING. Klub foto ini beranggotakan orang-orang Belanda, Indonesia dan Cina. Ini artinya pada masa itu fotografph tidak hanya sebagai sumber mata pencaharian saja, akan tetapi juga sebagai hobi dan kesenangan.

       Di Jogja pada awal tahun 1900an juga terdapat orang Cina yang memiliki hobi fotografi yang bernama Tan Gwat Bing. Jadi mungkin pada masa lalu dunia fotografi sangat mahal, maka kegiatan fotografi hanya di lakukan oleh kalangan terbatas saja. Entah itu warga Indonesia ataupun orang asing yang tinggal di Indonesia.

       Di dalam dunia studio foto dan perdagangan peralatan fotografi pada umumnya orang Cina lebih mendominasi. Hal ini karena berkaitan dengan masalah ekonomi. Bagi mereka fotografi merupakan salah satu sumber lahan untuk mencari nafkah dimana bidang ini belum begitu banyak di geluti orang. Orang Cina yang menggeluti dunia studio foto masih berhubungan dengan kerabat mereka sesama Cina yang tinggal di Singapura.

       Bagi mereka, fotografi adalah lapangan pekerjaan, bukan tujuan. Cukup menjadi tukang foto, bukan seniman foto. Alasan lain adalah begitu sederhananya teknologi pembuatan kamera dengan dasar camera obscura. Banyak orang Cina yang merantau ke Indonesia yang berasal dari Canton yang di kenal mempunyai keahlian dalam membuat mebel dari kayu.

      Bagi mereka sangat mudah membuat sendiri kamera dari kayu. Sedangkan untuk lensa di impor dari Jerman melalui kerabat mereka yang ada di Hongkong ataupun Singapura. Dominasi orang Cina dalam membuka studio foto juga masuk ke kota Magelang. Banyak studio foto yang bertebaran di kota ini yang di miliki oleh orang Cina, misalnya saja ada “OEN LIEM” STUDIO yang beralamat di Chinnese Kampement 93 atau di Jalan Pemuda kawasan Pecinan. Studio foto ini mengklaim sebagai studio foto yang modern di jamannya. Liat saja iklannya :

“OEN LIEM” STUDIO

CHIN. KAMP 93

MAGELANG

MODERNE en KUNSFOTOGRAFIE-LIJSTENMAKE

RIJ

Portret SIANG dan MALEM

Djoega bisa di panggil loear kota

HARGA MELAWAN ! ! !

      Masih di kawasan Pecinan ada juga studio foto “WAHSON” di Grooteweg Zuid No. 3 yang menerima layanan jasa KUNST-FOTO-ATELIER. Tak hanya di kawasan Pecinan, di sisi utara tepatnya di Groote Weg Noord No. 49 [sekarang toko pakan ternak seberang jalan Wisma Diponegoro kawasan Poncol] juga ada Photograafer handal Foto Atelier “LIE JAUW MING” dengan slogannya Je adres op het gebied van Photographie atau artinya alamat yang tepat untuk fotografi ‘Dag en Nachtopnamen’. Di studio foto ini menyediakan juga kamera yang di jual seperti Agfa, Kodak dan Gevaert. Tidak hanya melayani pemotretan dan penjualan kamera saja, LIE JAUW MING juga menjual Rolfilms, Filmpacks, Platen dan Cine Films.

Foto bersama di sebuah studio foto

      Bersebelahan dengan LIE JAUW MING juga ada foto studio GAH HIEN di Pontjol no. 43. Studio foto ini ada di era tahun 1950an. Dominasi orang Cina di dalam dunia studio foto bukan berarti menutup peluang etnis lain dalam membuka usaha yang sama. Studio foto MIDORI misalnya yang ternyata di miliki oleh orang Jepang. Studio foto MIDORI ada di Groote Weg Zuid No. 116 Telepon 104. Toko ini sekarang menjadi Toko LAN di Jalan Pemuda no 116 kawasan Pecinan Magelang.

       Dalam promosinya di sebuah buku terbitan tahun 1935 studio foto ini menyebutnya sebagai Japansch Fotografisch-Atelier. MIDORI tidak hanya melayani dunia potret memotret saja, akan tetapi juga menjual radio.

       Menurut informasi yang berhasil dikumpulkan bahwa keberadaan studio foto MIDORI hanya sekedar kedok saja dari orang Jepang sebagai pemilik toko tersebut. Orang Jepang tersebut ternyata menjadi mata-mata Jepang dengan cara mengumpulkan informasi kekuatan Belanda yang ada di Magelang. Caranya dengan melakukan pemotretan pada kawasan dan gedung strategis milik Belanda.

      Dan dengan berkedok jualan radio itu pula orang Jepang tersebut melakukan penyadapan terhadap informasi dari Belanda yang ada di Magelang. Dan anehnya sesaat setelah pasukan tentara Jepang masuk dan menguasai Magelang, orang Jepang pemilik Midori tersebut terus menghilang.

[sumber :

-buku Wetenswaardigheden van Magelang, HJ Sjouke 1935

-buku Damestooneeluitvoering FU NIE HUI 11 Juni 1938 Magelang

-buku POTRET terbitan Bentara Budaya Jogjakarta

-etiket foto tempo doeloe LIE JAUW MING, MIDORI & GAH HIEN

-Sumber-sumber lain yang layak dipercaya]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s