PEMAKAMAN TIONGHOA DI KOTA MAGELANG JAMAN BELANDA

Standard

Orang Tionghoa atau yang biasa kita sebut dengan orang Cina sudah lama ada dan tinggal di Magelang. Akan tetapi belum di ketahui secara pasti mulai kapan orang Cina ada di Magelang. Akan tetapi kalau merujuk pada data tentang pendirian Kelenteng Lion Hok Bio [1864] dapat di duga jauh sebelum tahun itu orang Cina sudah ada dan tinggal di Magelang. [lihat juga di http://www.facebook.com/groups/kotatoeamagelang/doc/335526146478853/].

Orang Cina menempati sisi jalan di Chineesche Kampement atau Groote Weg Zuid Patjinan atau Petjinan yang sekarang ini terkenal dengan sebutan Pecinan atau Jalan Pemuda. Mengapa orang-orang Cina di tempatkan pada kawasan tertentu ? Hal ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah Belanda pada waktu itu dengan menerapakan zoningisasi agar mudah mengawasi dan mengontrol orang-orang Cina [ingat peristiwa Gegeran Cina di tahun 1740 di Batavia].

Dalam perkembangan jaman orang-orang Cina menyadari bahwa sebagai kaum pendatang mereka membutuhkan kerjasama, gotong royong dan rasa persaudaraan yang baik. Tidak hanya dalam hal perekonomian akan tetapi huga dalam hal lain.Salah satunya adalah dalam hal mengurus kematian. Maka di dirikanlah lembaga sosial yang mengurus soal kematian [ lihat juga di http://www.facebook.com/groups/kotatoeamagelang/doc/327811867250281/].

Lembaga sosial ini khusus mengurus kegiatan kematian orang-orang Cina termasuk dalam hal pemakamannya.Pada kisaran pertengahan tahun 1800an ada 3 tempat di Kota Magelang sebagai areal pemakaman bagi orang-orang Cina [CHINEESCHE BEGRAAFPLAATS], yaitu di lereng timur Bukit Tidar, Singoranon [Bayeman, sekarang menjadi kawasan elit Gladiool] dan kampung Bogeman. Ketiga tempat ini menjadi pilihan karena tempatnya yang sesuai dengan Hongsui yaitu berada di lereng tanah dan ketinggian. Kebiasaan masyarakat biasanya menyebut pemakaman Cina ini dengan kata “BONG”.Merujuk pada kata “BONG” yang artinya makam, dan kata “BONG PAY” yang artinya nisan.

Pada saat itu orang-orang Cina yang meninggal ada yang di kremasi/diperabukan bagi yang beragama Budha atau di makamkan bagi yang beragama Tao dan Khonghucu. Kalau yang di makamkan pasti akan di masukan ke dalam peti mati yang di sebut dengan SIUPAN. Siupan ini terbuat dari kayu Jati utuh dan di buat sesuai dengan status sosial. semakin kaya orang tersebut maka akan semakin mewah dan berkualitas dari siupan tersebut. Salah satunya yang di sebut dengan siupan Cengkeh yaitu peti jenasah yang terbuat dari kayu Jati utuh berkualitas tinggi dan di hiasai dengan ukiran kelas satu yang mirip dengan bunga cengkeh yang sedang mekar. Bahkan ada siupan yang di ukir dengan hiasan mewah yang beratnya mencapai 300 kilogram.

Pada jaman itu proses pengangkutan jenasah dengan cara di angkut dengan kereta kuda.jumlah kudapun menyesuiakan dengan status strata sosial orang yang meninggal tersebut. Semakin kaya dan terpandang maka kuda penariknya pun akan semakin banyak. Ada kereta yang di tarik dengan 2, 4 atau 6 ekor kuda. Dan jika yang meninggal orang kaya raya maka tidak segan-segan Bong Pay atau nisan makamnya di datangkan langsung dari negeri leluhur mereka, negeri Tiongkok.

Pada jaman sebelum tahun 1942 lembaga sosial yang melayani kematian adalah HOO HAP HWEE KWAN dan SAM BAN HIEN. Pada jaman Jepang kedua lembaga sosial ini melebur menjadi satu dengan nama SONG SOE KIOK.

Sedangkan penggunaan mobil sebagai pengangkut jenasah baru di lakukan pada kisaran tahun 1955 oleh Yayasan Kematian Dharma.Yang kini berubah nama menjadi YAYASAN DANA KEMATIAN DHARMA.

Pada kisaran tahun 1935 pemakaman Cina di lereng Bukit Tidar di kenai aturan yang mengatur tentang luas area makam. Misalnya untuk kelas kedua sebuah makam dengan luas tidak lebih dari 56 meter persegi di kenai beaya sebesar f 0.75 gulden per meter persegi.Untuk makam dengan luas antara 56-108 meter persegi de kenai beaya sebesar f 1,50 gulden per meter persegi. Sedangkan jika lebih dari 180-200 meter persegi di kenai beaya sebesar f 3 gulden per meter persegi. Untuk kelas pertama di kenakai tarif sebesar 2 kali lipat tarif kelas kedua.

Pada tahun 1938-1941 pemakaman Cina di kawasan Singoranon di pindahkan ke lereng Bukit Tidar. Hal ini di lakukan oleh karena kebijakan pemerintah kota setempat pada waktu itu yang ingin melokalisir kawasan pemakaman Cina dalam satu tempat. Nah bekas pemakaman Singoranon akhirnya di jadikan pemukiman elit yang bernama “GLADIOOL”.

Dahulu untuk memakamkan jenasah di lereng Bukit Tidar melewati Kampung Baben sekarang ini dan menyeberang Kali Manggis melalui sebuah jembatan yang melintang di atasnya. Pada tahun 1950an ketika Akademi Militer di dirikan, kawasan Bukit Tidar yang tadinya gundul mulai di reboisasi dengan penanaman pepohonanan. Hal ini berdampak pada pemindahan makam-makam Cina yang ada di sisi timur lereng bukit Tidar. Makam-makam ini di pindahkan ke Soropadan dan Gremeng Salam.Ada juga jenasah-jenasah tersebut yang di kremasi oleh ahli warisnya. Akan tetapi meski demikian pada kisaran tahun 1980an proses pekamaman masih ada di sini.Bahkan pada awal tahun 1990an beberapa sisa makam masih dapat kita di temukan.

Sedangkan area pemakaman lain yaitu di kampung Bogeman. Menurut Kho Ping Gwan, pemakaman di Bogeman sudah ada sejak tahun 1800an.Dan sampai kinipun masih tersisa beberapa nisan di sini.

Sampai kini bisa di katakan di Kota Magelang sudah tidak ada lagi area pemakaman untuk orang-orang Tionghoa yang masih di pergunakan.Image

Pemakaman Tionghoa saat melewati selatan Pecinan Magelang, tahun belum diketahui [foto koleksi : Eddy Harso Wibowo]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

3 responses »

    • Pak Hendro; apakah makam kongco dan makco yang tidak dipindah sekarang masih ada?; apakah masih sering ditengok?. Makam kongco & makco saya juga tidak dipindah; saya sebetulnya mau tengok. Apakah jalan menuju kuburan tersebut masih ada?. Mohon informasinya.

      • sebulan yang lalu saya mencari makam seorang tokoh Tionghoa yang terkenal di masanya uang di makamkan di lereng Tidar sebelah timur , dengan bersusah payah akhirnya bisa ketemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s