SMP Negeri 1 Kota Magelang Menjelang Peringatan 1 Abad

Standard

SMP Negeri 1 Magelang terletak di Jalan Pahlawan nomor 66, tepatnya di Kawasan Kampung Botton Nambangan Kelurahan Magelang Kota Magelang. Dari eksterior luarnya sudah dapat dilihat kalo bangunan tersebut merupakan bangunan peninggalan kolonial.

Pada pintu masuk utamanya-pun terlihat khas sekali. Diapit dengan bangunan yang mirip dengan menara kecil berbentuk persegi menjulang ke atas. Daun jendela dan pintunya-pun tinggi dan terbuat dari kayu jati. Bangunan sayap yang ada di samping utara dan ruangan kelas simetris mengapit bangunan induk. Dulu ubinnya terbuat dari tegel teraso abu-abu bermotif bintik-bintik berukuran 20 x 20 cm.

Bangunan ini dulunya berdiri di atas tanah seluas 13.800 m2 dengan luas bangunan asli seluas 1875,5 m2. Dalam buku terbitan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah tahun 2001 menyebutkan kalau gedung ini berdiri pada tahun 1930. Tapi hal ini belum bisa dikatakan akurat mengingat beberapa sumber juga menyebutkan bahwa bangunan ini sudah ada sejak tahun 1912.

Menurut sumber tersebut bangunan ini berdiri pertama kali pada tanggal 11 Maret 1912 dan terletak di Bottonweg 21 te Magelang. Dan difungsikan pertama kali sebagai MULO Goverment atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs milik pemerintah. MULO merupakan sekolah rendah yang diperluas untuk masyarakat pribumi dan timur asing setingkat SMP/SMA yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Sedangkan lama pendidikan di MULO yaitu selama 3-4 tahun. Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa MULO pertama di dirikan pada tahun 1914. Pada jaman kolonial proses belajar mengajarnya masih menggunakan sabak sebagai tempat menulis dan grip sebagai pensilnya. Sabak itu terbuat dari lempengan batu hitam tipis berukuran sekitar 30 x 20 cm. Untuk menulis di atasnya menggunakan grip semacam batu hitam sebagai pensil yang diruncingkan. Cara meruncingkan dengan cara digosok-gosokkan pada pecahan genteng. Jika ingin menghapusnya bisa memakai daun atau kain yang digosokkan pada sabak tersebut sampai bersih. Nah para siswanya sendiri pada saat itu masih memakai jarit dan beskap dengan ikat di kepalanya. Tapi tentunya pada saat itu belum beralas kaki alias masih ‘nyokor/nyeker’.

Seiring pada perkembangan jaman terutama pada saat tentara Jepang masuk ke Magelang, MULO Gov. ikut mengalami peralihan. Pada jaman itu MULO Gov. berganti nama menjadi Syoto Chu Gakko, semacam sekolah ala Jepang. Kedisiplinan bangsa Nippon ini sangat ketat dan disiplin. Pada pagi hari menjelang masuk ke dalam kelas, para siswa diwajibkan membungkukkan badan ke arah Tokyo untuk menghormati kepada matahari terbit. Setelah itu dilanjutkan dengan senam pagi ala tentara Jepang. Tentu saja juga diperkenalkan lagu-lagu berbahasa Jepang. Apalagi Jepang pada saat itu juga mengaku-ngaku sebagai saudara tua dari bangsa kita. Dan dengan slogannya yaitu Jepang sebagai Pelindung, Pemimpin dan Cahaya Asia yang akan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan maka semakin menarik rakyat kita. Pada saat itu Jepang benar-benar ingin menghapuskan segala sesuatu yang berbau Belanda. Baik dari bahasa, pakaian, tingkah laku maupun proses belajar mengajar. Pada saat perang kemerdekaan terjadilah peristiwa yang memilukan dalam sejarah sekolah ini. Yaitu serangan dari pesawat terbang yang dilakukan oleh Jepang yang mengakibatkan meninggalnya beberapa siswa. Untuk menghargai dan sebagai bentuk penghargaan maka di sekolah ini didirikanlah monumen peringatan yang di beri nama Monumen Rantai Kencana.

Pada masa sesudah kemerdekaan gedung ini mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Misalkan saja gedung ini pernah dipergunakan sebagai sekolahan yang diselenggarakan oleh yayasan Kristen. Pernah juga untuk kantor Palang Merah Indonesia/PMI. Bahkan Perguruan Taman Siswapun pernah menggunakan gedung ini sebagai sekolah Taman Madya. Pada masa tahun 1965 berbarengan dengan peristiwa tragedi nasional yaitu G30S/PKI, operasional sekolah ini tersendat sementara waktu dikarenakan beberapa gurunya tersangkut organisasi terlarang itu. Sesudah Orde Baru memerintah negeri ini maka sekolah ini di buka kembali dengan nama SMP Negeri Magelang.

Perkembangan sekolah ini termasuk pesat karena merupakan satu-satunya sekolah milik pemerintah pada saat itu. Sampai sekarang sesudah menjadi SMP Negeri 1 Magelang, sekolah ini merupakan sekolah favorit. Prestasi lokal, propinsi, nasional maupun internasional merupakan hal yang biasa. Apalagi sekolah ini sekarang menjadi sekolah yang menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajarnya. Demikian sejarah SMP Negeri 1 Magelang dari jaman kolonial Belanda, Jepang, Kemerdekaan hingga sekarang. Pantaslah jika bangunan SMP Negeri 1 Magelang ini sudah secara resmi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Tak Bergerak di Kota Magelang dengan nomer inventaris 11-71/Mga/TB/06. Maka di tanggal 11 Maret 2012 ini sekolah tersebut mengadakan Peringatan 1 Abad [1912-2012]. Tema tahun ini adalah “Unforgetable Moment of 100 Years of SMP Negeri 1 Magelang Building“.

.

SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG !

.

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

6 responses »

  1. Saya mlh baru tau sejarah gedung ini,pdhl dl sekolah dsni:) mksh artikelnya ya.sayang,hari minggu bsk g bisa ikutan.ditunggu aja ceritanya ya…:)

  2. Kepada Bala Komunitas Kota Toea..perlu kami nformasikan bahwa sebentar lagi kita akan kehilangan salah satu sudut lereng gunung Tidar sebelah timur…Akan ada kebijakan Pemerintah Daerah Magelang untuk melebarkan jalan Sudirman menjadi dua arah dengan memangkas kantor Polsek Trunan dan dibablaskan tembus jalan Ikhlas. Kebijakan ini mengakibatkan lereng Tidar sebelah timur ( sebelah barat kali Manggis ) akan dibabat untuk jalan aspal. Sungguh sayang dan ironis…gunung Tidar yang kita banggakan, kita lindungi sebagai pusaka Magelang yang menjadi warisan nenek moyang kita akan tergilas oleh kebijakan pembangunan yang tidak bersahabat dengan lingkungan…
    Saudara2ku…tulisan ini adalah sapa batin…jerit tangis..dan kegalauan akal akan perilaku sebagian manusia yang lebih mementingkan pembangunan daripada kearifan akan warisan paling berharga dari leluhur leluhur kita…semoga Allah membuka mata pemimpin2 kita dalam membuat kebijakan…yyaaa Allah lindungilah gunung Tidar ini..jauhkanlah dari kerusakan yang dibuat oleh ciptaanMu yang penuh nafsu serakah dan angkara murka…

    • Kalau SMAN 1 Magelang setau saya itu bangunan baru, ada 3 bangunan sekolah yang serupa di Yogyakarta dan Surakarta, Awalnya SMAN di sekolah SD yang letaknya hampir bersebelahan dengan SMPN1, Pindahan sekitar tahun 55 – 58 (maaf saya lupa).
      memang saya dulu tinggal di jalan Pahlawan alumni SMPN1 pernah juga SMAN1. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s