Kampung Kwarasan

Standard

Kampung Kolonial Kwarasan

Jika melintas di kampung Kwarasan, Kelurahan Cacaban, Kelurahan Magelang Tengah. Kita bisa melihat deretan bangunan yang bentuknya hampir sama. Dilihat dari bentuk fisiknya, bisa ditebak bangunan tersebut merupakan bangunan tua yang sudah lama berdiri. Kampung tersebut memang termasuk salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda dan termasuk bangunan cagar budaya yang terdaftar dengan nomer 11-71/MGA/TB/27.

Nama Kwarasan berasal dari bahasa jawa, kewarasan (kesehatan). Pembangunan kampung ini memang bertujuan untuk memberikan kesehatan kepada penghuninya. Pada awal tahun 1932, saat itu terjadi Mala Ise (Krisis Ekonomi). Saat itu Kota Magelang diserang wabah penyakit Pes, penyakit disebarkan oleh tikus.Untuk itu pemerintah pada masa itu berinisiatif untuk membuat perumahan sehat untuk para pejabat dan masyarakat. Thomas Karsten yang juga arsitek yang membangun menara air ini didaulat untuk merancang komplek perumahan tersebut. Akhirnya dipilihnya daerah yang sekarang bernama kampung Kwarasan, kampung tersebut dibangun disebuah tanah kosong dengan luasan sekitar 2 hektar. Selain udara disana sejuk, dari perumahan tersebut juga bisa menyaksikan secara langsung keindah

an Gunung Sumbing.

“Perumahan tersebut dulunya dibangun untuk mengisolasi masyarakat dan pejabat Kolonial dari penyebaran penyakit Pes,” terang Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Kota Magelang, Titi Haryani Muktiningrum.

Pada tahun 1937 komplek perumahan tersebut berdiri. Komplek tersebut dibangun dengan tiga tipe rumah. Dibagian barat Jalan Sumbing dibangun komplek besar, sedangkan disebelah utara Jalan Sindoro, dibangun rumah dengan ukuran sedang. Untuk rumah dengan ukuran paling kecil dibangun disebelah timur Gang Kunc

i.

Walaupun dibangun arsitek Belanda, rumah di komplek ini dibangun dengan pola rumah jawa, yaitu berbentuk limasan, lantainya menggunakan traso, dan menggunakan kayu jati.  Namun sayang tidak ada sumber pasti yang mengatakan luasan tanah dan jumlah rumah dalam komplek tersebut.

Jarak dari satu rumah dengan rumah yang lain dibatasi dengan tanah kosong yang berfungsi sebagai sirkulasi udara. Selain itu, sebagai fasilitas umum juga dibangun dua tanah lapang. Lapangan tersebut dahulunya sering digunakan sebagai tempat interaksi pejabat dan masyarakat yang tinggal di komplek tersebut. Dua lapangan

tersebut dipisahkan oleh Jalan Sindoro, namun lapangan yang terletak disebelah utara sekarang berubah menjadi kantor Kecamatan Magelang Tengah. Sedangkan yang berada di sebelah selatan hingga saat ini dikenal menjadi lapangan Kwarasan.

“Dulu lapangan tersebut digunakan berjemur sambil minum kopi (On De

Zon) pejabat Kolonial yang tinggal di komplek tersebut,” terang Pemerhati dari Komunitas Kota Tua Bagus Priyana.

Berdasarkan keterangan salah seorang saksi sejarah yang juga tinggal di komplek tersebut, Ny Panji (67). Pada masa pendudukan Jepang (1942) kampung terse

but dikosongkan. Pejabat Kolonial yang menempati komplek tersebut diasingkan oleh Jepang. Ketika pemerintahan kembali dipegang oleh pemerintah Indonesia kampung tersebut kembali dikelola oleh pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia membentuk sebuah lembaga yang diberi nama Versuis. Lembaga tersebut bertugas untuk mengurusi bangunan tersebut dan beberapa bangunan peninggalan Belanda lainnya. Komplek Kwarasan tersebut pernah digunakan sebagai tempat tinggal pejabat, diantaranya Bupati Magelang, Purwosubijono.

“Rumahnya paling pojok di Jalan Sumbing,” terang Ny Panji yang tinggal di Gang Kunci sambil duduk di ruang tamu dengan ukuran 3×3 meter.

Rumah yang ditempati Ny Panji memang belum berubah, sama seperti pertama kali dibangun. Rumah tersebut lebih tinggi dari akses jalan, posisi ini dimaksudkan agar penghuninya bisa tetap menikmati pemadangan Gunung Sumbing dan tidak terhalang rumah yang dibangun di depannya. Untuk akses masuknya dibangun sebuah tangga dengan besi pegangan di pinggirnya.

Namun saat ini bangunan di komplek  tersebut kepemilikannya berpindah tangan menjadi milik pribadi. Tidak ada sumber yang menyebutkan kapan perpindahan kepemilikan dan proses perpindahannya tersebut.  Walaupun termasuk dalam benda cagar budaya, bangunan tersebut sekarang banyak mengalami perubahan. Bentuk rumahnya banyak yang sudah berubah. Bangunan dengan arsitektur modern mengganti bentuk rumah asli hasil karya Thomas Karsten

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

12 responses »

  1. Sedikit berbagi informasi, atap yang dipergunakan untuk rumah-rumah di perumahan kwarasan berbentuk “pacul gowang”. Ini merupakan salah satu bentuk atap pada rumah jawa kampung. Thomas Karsten, sang arsitek, mencoba memberi sentuhan lokal pada bentukan atapnya serta mencoba menerapkan rancangan yang tanggap dengan iklim tropis. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya lubang ventilasi pada rumah, ruang di bawah atap yang cukup tinggi serta memberi prosentase ruang luar (halaman) yang cukup agar sirkulasi udara (cross ventilation) bisa berlangsung dengan baik.

    Satu hal yang cukup menarik adalah bagaimana si arsitek merencanakan dan merancang rumah di wilayah tersebut menyesuaikan dengan kondisi topografi setempat (yang cenderung miring/menurun).

  2. Ooooooo pantesan, pas di jalanan sebelah kanan ke arah Cacaban ada poliklinik Paru (TBC), begini to sejarahnya!!!

  3. Tempat bermain waktu kecil, ada lapangan basket kemudian pas di bukit, sebelah kanan jalan kalau dr jalan sultan agung ada bangunan goa jepang. Tapi belum pernah masuk kesana.

  4. hi saya dibesarkan di jl. sindoro, tempatnya waktu saya masih kecil bagus sekali,ada dua lapangan dengan dan gumuk, saya ingat waktu kecil suka main layang layang, main bola dan balapan sepeda , tapi sayang sekarang lapangan dan gumuk sudah jadi kantor kecamatan dan rumah, saya pribadi menyayang kan, apakah ada kemungkinan pemerintah mengembalikan seperti semula ???????

    • terima kasih atensinya, banyak beribu kenangan di Kwarasan karena memang lokasinya sangat bagus sebagai kawasan hunian. kondep dari pembangunan kawasan ini memang sebagai tempat yang nyaman, sehat, terencana dengan baik dll. Tapi memang melihat kenyataan yang terjadi akan sangat berat pemerintah mau mengembalikannya seperti semula.

      • Pak Papi sekarang panjenengan tinggal di mana…kami bertetangga n rumah kami berhadapan lho… saya adiknya Andoko Rukmo n Argo Rukmo.

    • Mbak Ratih Rukmi. Apakah betul ini keluarga Rukmo & Rukmi yang dulu pernah kost di Gowongan Lor ; Yogyakarta ? Bisa minta no kontaknya Mas Andoko dan Mas Argo ? Saya Wawan yg dulu tinggal di Gowongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s